Rehabilitasi
Nomor Putusan: No. 35 Tahun 2021
Ketua & Bawaslu Kab. Serang
Tahun: 2021 · Tanggal (data DKPP): 31/03/2021 · Tanggal Putusan (dari dokumen): 17-03-2021
👁 21 dibaca
⇩ 8 diunduh
⇩ Unduh Putusan (PDF)
Ringkasan
Pokok AduanBahwa Pengadu telah menyampaikan Pengaduan tertulis kepada DKPP dengan Pengaduan Nomor: 11-P/L-DKPP/I/2020 yang diregistrasi dengan Perkara Nomor: 35- PKE-DKPP/I/2020, yang disampaikan secara lisan dalam sidang DKPP dengan uraian sebagai berikut: 1. Bahwa Pengadu adalah warga Negara Indonesia Pasangan Calon Peserta Pemilihan BUPATI dan WAKIL BUPATI Tahun 2020 berdasarkan Keputusan KOMISI PEMILIHAN UMUM KABUPATEN SERANG No, 220/HK.03.1-Kpt/3604/KPU-Kab- IX/2020 Tanggal 23 September 2020, bahwa pada saat pengadu Calon Wakil BUPATI Kabupaten SERANG berkunjung ke Kecamatan KIBIN pada hari pencoblosan tanggal 9 Desember 2020 di laporkan oleh saksi MUBAROK dan Saksi MAHYAR pada TPS 01 Kp.
Pertimbangan PutusanMenimbang Pengadu pada pokoknya mendalilkan Para Teradu diduga melanggar kode etik dan pedoman perilaku penyelenggara pemilu atas tindakannya sebagai berikut : [4.1.1] Para Teradu diduga tidak profesional dan berkepastian hukum dalam menangani laporan Nomor 29/PL/PB/Kab/11.07/XII/2020, tertanggal 11 Desember 2020 karena pemeriksaan pelapor dan saksi pelapor tanpa didampingi Para Teradu dan/atau Penyidik atau Jaksa Sentra Gakkumdu Kabupaten Serang dan akhirnya menghentikan penanganan laporan a quo; [4.1.2] Teradu I diduga tidak menindaklanjuti informasi masyarakat tanggal 9 Desember 2020 tentang peristiwa pelanggaran pemilihan dan tidak menjadikan informasi tersebut sebagai temuan; Menimbang keterangan dan jawaban Para Teradu pada pokoknya menolak seluruh dalil aduan Pengadu. Dalam sidang pemeriksaan Para Teradu pada pokoknya menjelaskan sebagai berikut : [4.2.1] Pada tanggal 11 Desember 2020, Para Teradu telah menerima laporan dari Mubarok tentang peristiwa pembagian uang oleh Terlapor Iwan Kurniawan kepada pemilih di TPS 01, Kampung Dadap, Desa Ciagel, Kecamatan Kibin pada tanggal 9 Desember 2020.
Pasal DilanggarPasal 18 Peraturan Bersama Sentra Gakkumdu; Pasal 29; Pasal 29 ayat (1); Pasal 26; Pasal 183; Pasal 73 ayat (4) jo Pasal 187A Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 dan segera melakukan
Amar Putusan1. Menolak Pengaduan Pengadu untuk seluruhnya; 2. Merehabilitasi nama baik Teradu I Yadi selaku Ketua merangkap Anggota Bawaslu Kabupaten Serang, Teradu II Sulyantarudin, Teradu III Abdurrohman, Teradu IV Ari Setiawan dan Teradu V Muhammad Asmawi, masing-masing selaku Anggota Bawaslu Kabupaten Serang; 3. Memerintahkan Bawaslu Provinsi Banten untuk melaksanakan putusan ini paling lama 7 (tujuh) hari sejak dibacakan; dan 4. Memerintahkan Badan Pengawas Pemilu Republik Indonesia untuk mengawasi pelaksanaan Putusan ini.
PEMBUKAAN
PUTUSAN
Nomor: 35-PKE-DKPP/I/2021
DEWAN KEHORMATAN PENYELENGGARA PEMILU
REPUBLIK INDONESIA
DEMI KEADILAN DAN KEHORMATAN PENYELENGGARA PEMILU
Memeriksa dan memutus pada tingkat pertama dan terakhir Pengaduan Nomor: 11-
P/L-DKPP/I/2021 yang diregistrasi dengan Perkara Nomor: 35-PKE-DKPP/I/2021,
menjatuhkan Putusan atas dugaan pelanggaran Kode Etik Penyelenggara Pemilu yang
diajukan oleh:
I. IDENTITAS PENGADU
[1.1] PENGADU
1. Nama : H. Nasrul Ulum
Pekerjaan/Lembaga : Calon Bupati Nomor Urut 2 Kabupaten Serang Tahun
2020
Alamat : KP Solor Lor RT.018 RW 008 Kel/Desa Margagiri,
Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang
2. Nama : H. Eki Baihaki
Pekerjaan/Lembaga : Calon Wakil Bupati Nomor Urut 2 Kabupaten Serang
Tahun 2020
Alamat : KP Solor Lor RT.018 RW 008 Kel/Desa Margagiri,
Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang
Memberikan Kuasa Kepada:
3. Nama : 1. Didi Sumardi,
2. A. Haris Tuasikal, dan
3. Faisal Tuasikal.
Pekerjaan/Lembaga : Pengacara/Kantor Hukum Sumardi & Rekan
Alamat : Ruko Griya Bukit Jaya Blok L 6 No.9, Jl. Utama
Griya Bukit Jaya, Bojongnangka, Gunung Putri Bogor,
Jawa Barat
Selanjutnya disebut sebagai----------------------------------------------------------- Pengadu;
II. IDENTITAS TERADU
TERHADAP
[1.2] TERADU
1. Nama : Yadi
Jabatan : Ketua Bawaslu Kabupaten Serang
Alamat Kantor : Jalan Raya Palka Palima Ds. Sindangsari, Kec. Pabuaran,
Kabupaten Serang, Banten
Selanjutnya disebut sebagai------------------------------------------------------------ Teradu I;
2. Nama : Sulyantarudin
Jabatan : Anggota Bawaslu Kabupaten Serang
Alamat Kantor : Jalan Raya Palka Palima Ds. Sindangsari, Kec. Pabuaran,
Kabupaten Serang, Banten
Selanjutnya disebut sebagai----------------------------------------------------------- Teradu II;
3. Nama : Abdurrohman
Jabatan : Anggota Bawaslu Kabupaten Serang
Alamat Kantor : Jalan Raya Palka Palima Ds. Sindangsari, Kec. Pabuaran,
Kabupaten Serang, Banten
Selanjutnya disebut sebagai---------------------------------------------------------- Teradu III;
4. Nama : Ari Setiawan
Jabatan : Anggota Bawaslu Kabupaten Serang
Alamat Kantor : Jalan Raya Palka Palima Ds. Sindangsari, Kec. Pabuaran,
Kabupaten Serang, Banten
Selanjutnya disebut sebagai---------------------------------------------------------- Teradu IV;
5. Nama : Muhamad Asmawi
Jabatan : Anggota Bawaslu Kabupaten Serang
Alamat Kantor : Jalan Raya Palka Palima Ds. Sindangsari, Kec. Pabuaran,
Kabupaten Serang, Banten
Selanjutnya disebut sebagai----------------------------------------------------------- Teradu V;
Teradu I, Teradu II, Teradu III, Teradu IV dan Teradu V selanjutnya disebut sebagai-----
----------------------------------------------------------------------------------------- Para Teradu.
[1.3] Membaca pengaduan Pengadu;
Mendengar keterangan Pengadu;
Mendengar jawaban Para Teradu;
Mendengar Keterangan saksi;
Mendengar Keterangan Pihak Terkait; dan
Memeriksa dan mempelajari dengan seksama segala bukti yang diajukan
Pengadu dan Para Teradu.
III. DUDUK PERKARA
[2.1] POKOK PENGADUAN PENGADU
Bahwa Pengadu telah menyampaikan Pengaduan tertulis kepada DKPP dengan
Pengaduan Nomor: 11-P/L-DKPP/I/2020 yang diregistrasi dengan Perkara Nomor: 35-
PKE-DKPP/I/2020, yang disampaikan secara lisan dalam sidang DKPP dengan uraian
sebagai berikut:
1. Bahwa Pengadu adalah warga Negara Indonesia Pasangan Calon Peserta Pemilihan
BUPATI dan WAKIL BUPATI Tahun 2020 berdasarkan Keputusan KOMISI
PEMILIHAN UMUM KABUPATEN SERANG No, 220/HK.03.1-Kpt/3604/KPU-Kab-
IX/2020 Tanggal 23 September 2020, bahwa pada saat pengadu Calon Wakil
BUPATI Kabupaten SERANG berkunjung ke Kecamatan KIBIN pada hari
pencoblosan tanggal 9 Desember 2020 di laporkan oleh saksi MUBAROK dan Saksi
MAHYAR pada TPS 01 Kp. Dadap Desa Ciagel Kecamatan Kibin Kabupaten Serang,
bahwa ada salah satu warga yang membagi bagikan uang kepada masyarakat
pemilik hak suara untuk memilih pasangan calon BUPATI dan wakil BUPATI
Nomor urut 01, atas peristiwa tersebut Pengadu telah memerintahkan Para Saksi
umtuk melaporkan dugaan pelanggaran tindak pidana pemilu kepada Para Teradu
yang para saksi lihat dan alami sendiri serta merekam peristiwa dugaan tindak
pidana pemilihan di TPS 01 Kp. Dadap Desa Ciagel Kecamatan Kibin Kabupaten
Serang pada hari pencoblosan tanggal 9 Desember 2020 yang dilakukan dengan
cara membagi-bagikan uang kepada masyarakat pemilik hak suara untuk
memenangkan calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Serang tahun 2020
Nomor Urut 01 dan atas temuan tersebut Saksi MUBAROK telah melaporkan
dugaan tindak pidananya kepada Para Teradu berdasarkan Tanda Bukti
Penyampaian Laporan No. 29/PL/PB/Kab/11.07/XII/2020 tanggal 11 Desember
2020 .
2. Bahwa sebelum Saksi MUBAROK melaporkan dugaan Pelanggaran Pemilihan
Bupati dan Wakil Bupati Kabupten Serang tahun 2020 tersebut, sebelumnya telah
terlebih dahulu pada hari Pencoblosan tanggal 9 Desember 2020 Teradu I telah
menerima informasi secara lisan dari masyarakat lainnya atas peristiwa dugaan
tindak pidana tersebut oleh karenanya menjadi Temuan Para Teradu sebagaimana
dimaksud pada Pasal 3, Pasal 19, Pasal 20 dan Pasal 21 Peraturan Badan
Pengawas Pemilihan Umum RI No. 8 Tahun 2020 Tentang Penanganan
Pelanggaran Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati,
serta Walikota dan Wakil Walikota, yang sampai saat ini tidak dapat dipertanggung
jawabkan penanganan temuan tersebut oleh Para Teradu.
3. Bahwa laporan Saksi MUBAROK kepada Para Teradu diatas telah memenuhi syarat
dan tata cara sebagaimana yang diatur pada Pasal 6 Peraturan Badan Pengawas
Pemilihan Umum RI No. 8 Tahun 2020 Tentang Penanganan Pelanggaran
Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, serta Walikota
dan Wakil Walikota, yakni dengan cara dan penyerahan bukti sebagai berikut:
1. Mengisi dan menandatangani formulir Model A.1
2. Menyerahkan fotocopy KTP Pelapor, KTP Saksi dan Flasdisk berisi rekaman
video penyerahan uang oleh Terlapor saat itu.
4. Bahwa pada tanggal 13 Desember 2020 Teradu I telah mengirim Surat perihal
Undangan Klarifikasi No. 204/K.BT-03/PM.05.02/XII/2020 kepada Saksi
MUBAROK untuk dimintai keterangan pada Hari Senin, tanggal 14 Desember
2020, bersamaan dengan itu pada hari yang sama Saksi Sdr. Mahyar dengan Surat
No. 204/K.BT-03/PM.05.02/XII/2020 tanggal 13 Desember 2020 juga ikut
dipanggil dan diperiksa atas Dugaan Tindak Pidana Pemilu sebagaimana yang
dilaporkan oleh SAKSI MUBAROK kepada Para Teradu.
5. Bahwa Pemeriksaan terhadap Saksi MUBAROK dilakukan oleh pemeriksa Sdr.
Toiful tanpa didampingi oleh Para Teradu atau Penyidik/Jaksa Sentra
Gakkumdu Kabupaten Serang, sedangkan untuk Saksi Mahyar dilakukan oleh
Pemeriksa Sdr. Hasan juga tanpa didampingi oleh Para Teradu dan/atau
Penyidik dan/atau Jaksa pada Sentra Gakkumdu Kabupaten Serang.
6. Bahwa Para Teradu tidaklah dapat memberi mandat kewenangan untuk
melakukan pemeriksaan in casu kepada Sdr. Toiful dan Sdr. Hasan terhadap
Pelapor dan Saksi dalam Dugaan Tindak Pidana Pemilu pada pemeriksaan
klarifikasi tanpa didampingi oleh Penyelidik/Penyidik, pengabaian terhadap
Hukum Acara pemeriksaan tersebut membuktikan perbuatan Para Teradu telah
mengkesampingkan Hukum dan Peraturan perundang-undangan yang berlaku.
7. Bahwa laporan Saksi MUBAROK kepada Para Teradu terbukti telah memenuhi
syarat Formal dan Materil pelaporan sebagaimana disyaratkan pada ketentuan
Pasal 9 dan terkait waktu penanganan Pelanggaran telah lebih dari 5 (hari)
sebagaimana diatur dalam Pasal 23 Peraturan Badan Pengawas Pemilihan Umum
RI No. 8 Tahun 2020 Tentang Penanganan Pelanggaran Pemilihan Gubernur dan
Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, serta Walikota dan Wakil Walikota.
A. Para Teradu Melanggar Peraturan perundang-undangan.
1. Bahwa Para Teradu telah melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku
terkait Penanganan Pelanggaran Dugaan Tindak Pidana Pemilu yang secara nyata-
nyata telah berpihak pada salah satu pasangan calon pada pemilihan Bupati dan
Wakil Bupati Kabupaten Serang tahun 2020.
2. Bahwa Teradu I telah menerbitkan Surat Pemberitahuan Tentang Status Laporan
tertanggal 18 Desember 2020 yang pada pokoknya menyampaikan bahwa Laporan
Saksi MUBAROK tidak dapat dilanjutkan dengan alasan Tidak Ada Persesuaian
dan Tidak Cukup Bukti Melakukan Tindak Pidana Pemilihan.
3. Bahwa alasan-alasan yang diberitahukan oleh Para Teradu tersebut tidak
beralasan menurut hukum dan tidak dapat dibenarkan, lagipula pemberitahuan
tersebut tidak dituangkan dalam formulir Model A. 17.
4. Bahwa Para Teradu dalam melakukan penanganan pelanggaran tindak pidana
pemilu hanya dapat menghentikan penangannya apabila tidak terdapat unsur
Pidana dan/atau perbuatan yang dilaporkan termasuk pelanggaran terhadap
ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya dan wajib diteruskan kepada
Penyidik Kepolisian RI pada Sentra GAKKUMDU sesuai ketentuan Pasal 35 ayat (1)
Peraturan Badan Pengawas Pemilihan Umum RI No. 8 Tahun 2020, sebagai berikut
:
Pasal 35 ayat (1). Laporan atau temuan dugaan tindak pidana pemilihan diteruskan
oleh Bawaslu, Bawaslu Provinsi, atau Bawaslu Kabupaten/Kota kepada Penyidik
Kepolisian Negera Republik Indonesia pada sentra Penegakan Hukum Terpadu
sesuai dengan tingkatannya.
5. Bahwa dengan telah diregistrasinya laporan Saksi MUBAROK kepada Para Teradu
atas dugaan pelanggaran tindak pidana pemilu No.
24/Reg/LP/PB/KAB/11.07/XII/2020 maka berdasarkan Pasal 12 ayat (2)
Peraturan Badan Pengawas Pemilihan Umum RI No. 8 Tahun 2020 Para Teradu
wajib meneruskan dan menindaklanjuti laporan tersebut kepada Penyidik
Kepolisan oleh karenanya Para Teradu tidak dapat menghentikan perkara tersebut,
sebagai berikut :
asal 12 ayat (2). Hasil kajian awal berupa dugaan tindak pidana pemilihan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf d yang telah memenuhi syarat formal
dan syarat materiel diregistrasi dan ditindaklanjuti penanganan dugaan tindak
pidana pemilihan berdasarkan paraturan bersama Kepala Kepolisian Negera
Republik Indonesia, Jaksa Agung RI, dan Ketua Bawaslu mengenai Sentra
Penegakan Hukum terpadu Pemilihan.
6. Bahwa oleh karenanya penghentian penanganan dan tidak diteruskan Laporan
No. 24/Reg/LP/PB/KAB/11.07/XII/2020 oleh Para Teradu bertentangan
dengan hukum dan telah melampaui kewenangan yang diberikan Peraturan
Perudang-undangan kepada Pengawas Pemilihan dalam penanganan pelanggaran
dugaan tindak pidana Pemilu, selain itu alasan-alasan yang disampaikan oleh Para
Teradu terkait unsur dan pembuktian tindak pidana pemilu berdasarkan
Ketentuan Undang-undang No. 7 tahun 2017 tentang Pemilihan Umum, hanya
dapat dilakukan oleh Penyidik bukan oleh Para Teradu selaku Pengawas Pemilu
sebagaimana ketentuan Pasal 23 ayat (5) Peraturan Badan Pengawas Pemilihan
Umum No. 31 tahun 2018 tentang Sentra Penegakan Hukum Terpadu.
7. Bahwa dalam menjalankan tugasnya pada pelaksanaan pemberian mandat
dan/atau pemeriksaan klarifikasi oleh Para Teradu melalui Sdr. Toiful dan Sdr.
Hasan dalam pemeriksaan Saksi MUBAROK selaku Saksi Pelapor dan Saksi
berdasarkan Laporan Dugaan Tindak Pidana Pemilu No.
24/Reg/LP/PB/KAB/11.07/XII/2020 dilakukan tidak sesuai hukum dan
bertentangan dengan Peraturan Perundang-undangan.
8. Bahwa berdasarkan Pasal 21 ayat (5) Peraturan Badan Pengawas Pemilihan Umum
No. 31 tahun 2018 tentang Sentra Penegakan Hukum Terpadu dalam meminta
ketarangan dan/atau klarifikasi Para Teradu in casu Sdr. Toiful dan Sdr. Hasan
wajib didampingi oleh Penyidik dan Jaksa namun dalam pelaksanaanya hal
tersebut tidak pernah dilakukan justru Para Teradu telah melakukan pembiaran
terhadap tugas dan fungsinya oleh karenanya seluruh proses penanganan
pelanggaran Pemilu yang dilakukan oleh Para Teradu CACAT HUKUM, sebagai
berikut :
Pasal 21 ayat (5). Dalam meminta keterangan dan/atau klarifikasi sebagaimana
dimaksud pada ayat (2), Pengawas Pemilu didampingi oleh Penyidik dan Jaksa.
9. Bahwa hasil laporan pelanggaran pemilu meskipun telah disimpulkan oleh Para
Teradu merupakan dugaan tindak pidana pemilu yang dilaporkan oleh Saksi
MUBAROK kepada Para Teradu telah masuk pada pembahasan Kedua namun
tidak pernah diteruskan penangannya kepada Penyidik, perlakuan demikian
merupakan bentuk keberpihakan Para Teradu kepada salah satu pasangan calon
Bupati dan Wakil Bupati Kabupten Serang dan hal tersebut merupakan perbuatan
penyalahgunaan wewenang, sebagaimana diatur dalam Pasal 23 ayat (4) Peraturan
Badan Pengawas Pemilihan Umum No. 31 tahun 2018 tentang Sentra Penegakan
Hukum Terpadu:
Pasal 23 (4). Apabila temuan atau laporan dugaan tindak pidana Pemilu
berdasarkan kesimpulan, pembahasan sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
dinyatakan terdapat dugaan tindak pidana pemilu, Pengawas Pemilu meneruskan
penanganan dugaan tindak pidana pemilu kepada Penyidik.
10. Bahwa penghentian penyelidikan dugaan tindak pidana termasuk tindak pidana
Pemilu tidak dikenal penghentian tindak pidana berdasarkan alasan-alasan TIDAK
ADA KESESUAIAN, sedangkan alasan TIDAK CUKUP BUKTI hanya dapat
dilakukan pada tahap Tingkat Penyidikan pada pembahasan Ketiga oleh Penyidik.
11. Bahwa penghentian tindak pidana Pemilu oleh Para Teradu pada pembahasan
Kedua hanya dapat dilakukan dengan alasan tidak terdapatnya unsur tindak
pidana pemilu, yang diatur pada Pasal 23 ayat (5) Peraturan Badan Pengawas
Pemilihan Umum No. 31 tahun 2018 tentang Sentra Penegakan Hukum Terpadu
sebagai berikut :
Pasal 23 ayat (5). Apabila temuan atau laporan dugaan tindak pidana Pemilu
berdasarkan Pembahasan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dinyatakan tidak
terdapat unsur tindak pidana Pemilu, Pengawas Pemilu menghentikan penanganan
temuan atau laporan.
12. Bahwa oleh karena itu penghentian penanganan pelanggaran pemilu dalam hal ini
Tindak Pidana Pemilu dengan alasan-alasan TIDAK ADA KESESUAIAN dan alasan
TIDAK CUKUP BUKTI adalah cacat hukum dan bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
B. Kode Etik
1. Bahwa dalam pelaksanaan tugas dan kewenangan penanganan laporan dugaan
pelanggaran tindak pidana pemilu Para Teradu selaku Penyelenggara Pemilihan
Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Serang Tahun 2020 telah melakukan
perbuatan yang bertentangan dengan Kode Etik dan Pedoman Perilaku
Penyelenggara Pemilihan Umum sebagaimana diatur dalam Peraturan Dewan
Kehormatan Penyeleggara Pemilihan Umum No. 2 tahun 2017.
2. Bahwa Para Teradu tidak berpegang pada integritas yang berpedoman pada prinsip
Akuntabel sebagaimana diatur pada Pasal 6 ayat 2 huruf d jo. Pasal 16 Peraturan
Dewan Kehormatan Penyeleggara Pemilihan Umum No. 2 tahun 2017 yang
bermakna bahwa Penyelenggara Pemilu melaksanakan tugas, wewenang dan
kewajiban dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab dan hasilnya dapat
dipertanggung jawabkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
3. Bahwa oleh karena hasil penanganan laporan dugaan pelanggaran pidana
pemilihan yang dilaporkan oleh Saksi MUBAROK dilaksakan dengan cacat hukum
dengan cara-cara yang bertentangan dengan ketentuan sebagaimana disebut
dalam uraian bagian Pelanggaran Peraturan Perundang-undangan diatas maka
hasilnya pun menjadi cacat hukum, oleh karenanya demi kepastian hokum dan
rasa keadilan maka Penanganan Pelanggaran Pemilu sebagaimana yang dilaporkan
oleh Saksi MUBAROK tersebut harus dilanjutkan oleh Penyelenggara Pemilu yang
professional dan tidak memihak.
[2.2] PETITUM PENGADU
Bahwa berdasarkan uraian di atas, Pengadu memohon kepada Dewan Kehormatan
Penyelenggara Pemilu berdasarkan kewenangannya untuk memutus hal-hal sebagai
berikut:
1) Mengabulkan Pengaduan Pengadu untuk seluruhnya;
2) Menyatakan Para Teradu terbukti melanggar Kode Etik dan Pedoman Perilaku
Penyelenggara Pemilu;
3) Memberikan sanksi sesuai tingkat kesalahannya kepada Para Teradu atas
pelanggaran Kode Etik dan Pedoman Perilaku Penyelenggara Pemilu; dan
4) Apabila Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilihan Umum berpendapat lain,
mohon memberikan putusan yang seadil-adilnya (ex aequo et bono).
[2.3] BUKTI PENGADU
Bahwa untuk membuktikan dalil-dalilnya, Pengadu mengajukan alat bukti P-1 s.d P-9
sebagai berikut:
NO. BUKTI KETERANGAN
Surat Pemberitahuan Tentang Status Laporan tanggal 18 Desember
1. P-1
2020 yang dikeluarkan oleh Bawaslu Kabupten Serang;
2. P-2 Tanda Bukti Penyampaian Laporan No.
29/PL/PB/Kab/11.07/XII/2020 tanggal 11 Desember 2020;
3. P-3 Surat Undangan Klarifikasi yang ditujukan kepada Mubarok No.
204/K.BT-03/PM.05.02/XII/2020 tanggal 13 Desember 2020;
4. P-4 Surat Undangan Klarifikasi yang ditujukan kepada Saksi Mahyar No.
205/K.BT-03/PM.05.02/XII/2020 tanggal 13 Desember 2020;
5. P-5 Tanda terima Surat yang tembuskan kepada Bawaslu Provinsi Banten
tertanggal 17 Desember 2020 perihal Permohonan Supervisi terhadap
Bawaslu Kabupaten Serang;
6. P-6 Tanda terima Surat yang ditembuskan kepada Bawaslu tertanggal 17
Desember 2020 perihal Permohonan Supervisi terhadap Bawaslu
Kabupaten Serang;
7. P-7 Saksi Mubarok dan Saksi Mahyar;
8. P-8 Foto dugaan pemberian uang di depan TPS kepada masyarakat
pemilik hak suara;
9. P-9 video proses pemberian uang didepan TPS kepada masyarakat pemilik
hak suara yang direkam oleh Pengadu sebagai bukti dalam laporan
dugaan tindak pidana Pemilu yang dilaporkan kepada Para Teradu;
[2.4] SAKSI PENGADU
Bahwa untuk membuktikan dalil-dalilnya, Pengadu mengajukan Saksi:
1. Mahyar
Memberikan keterangan dibawah sumpah dihadapan Majelis sidang DKPP bahwa
Saksi merupakan Tim Sukses Paslon Nomor urut 02. Saksi mendapat laporan dari
Mubarok ada peristiwa pembagian uang dan langsung menuju ke TPS 01 dan
langsung menghimbau agar Iwan tidak berbuat begitu. Saksi menjelaskan bahwa
langsung klarifikasi ke Sarmi si penerima uang dan langsung laporm ke Bawaslu
Kabupaten Serang pada siang hari.
2. Mubarok
Memberikan keterangan dibawah sumpah dihadapan Majelis sidang DKPP bahwa
Saksi hadir di TPS 01 sebagai Pemilih serta Relawan Paslon Nomor Urut 2 dan
datang padad pukul 08.00 WIB. Saksi menjelaskan meninggalkan TPS 01 Pukul
08.30 WIB. Saksi menerangkan melihat Iwan melakukan pembagian uang pada
pukul 8.20 WIB dan dibagikan ke Pemilih berjumlah 5 orang. Saksi menerangkan
melihat Iwan membagikan uang dengan pecahan 20 ribu rupiah dan merekam
kejadian tersebut. Saksi menjelaskan bahwa Ibu Sarmi belum menggunakan hak
pilihnya dan yang Saksi videokan hanya 1 orang yang tidak divideokan sejumlah 5
orang. Saksi menjelaskan bahwa melapor ke Bawaslu bersama kuasa hukum. Saksi
menjelaskan terkait denah TPS 01, Sarmi berprofesi sebagau penjual gorengan,
tidak ada ada panwas TPS namun KPPS hadir dan tidak mengingatkan Sarmi yang
masuk ke TPS serta tidak ada Tindakan dari Panwas TPS.
[2.5] PENJELASAN DAN POKOK JAWABAN PARA TERADU
Dalam sidang pemeriksaan DKPP, Para Teradu menyampaikan jawaban lisan dan
dilengkapi jawaban tertulis sebagai berikut:
1. Bahwa Para Teradu menolak seluruh dalil laporan Pengadu kecuali apa yang
diakui oleh Para Teradu secara jelas dan tegas;
2. Bahwa Para Teradu akan menanggapi laporan Pengadu yang ada relevansinya
dengan tugas, fungsi, dan kewenangan Para Teradu dalam melakukan proses
pengawasan dan penindakan pada Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Serang
tahun 2020;
3. Bahwa Pengadu mengadukan teradu menggunakan Peraturan Perundang-
undangan sebagai berikut :
a. Undang-Undang Nomor 7 tahun 2017 tentang Pemilihan Umum
- dalil pengadu poin 5.A angka 6 lembar/halaman ke-7
b. Peraturan Badan Pengawas Pemilihan Umum Republik Indonesia
(Perbawaslu) 31 Tahun 2018 tentang Sentra Penegakkan Hukum
Terpadu
- dalil pengadu poin 5.A angka 6 lembar/halaman ke-7,
- dalil pengadu poin 5.A angka 8 lembar/halaman ke-8,
- dalil pengadu poin 5.A angka 9 lembar/halaman ke-8,
- dalil pengadu poin 5.A angka 11 lembar/halaman ke-8.
Bahwa Undang-Undang dan Perbawaslu yang digunakan oleh Pengadu dalam
aduannya sebagaimana diatas, bukanlah aturan terkait Pemilihan Gubernur,
Bupati, dan Walikota Tahun 2020.
4. Bahwa Para Teradu telah membaca dan mempelajari laporan Pengadu, pada
intinya menyatakan:
“Para Teradu dalam memproses Laporan dugaan Pelanggaran Pidana Pemilihan
berdasarkan Register Perkara No. 24/Reg/LP/PB/KAB/11.07/XII/2020 tanggal 13
Desember 2020 dilakukan tidak berdasarkan peraturan perundang-undangan yang
berlaku, sehingga dinilai melanggar prinsip penyelenggara pemilu yang mandiri,
adil, berkepastian hukum profesional dan akuntabel akibatnya laporan tersebut
tidak dapat dilanjutkan (dihentikan).
5. Bahwa Pengadu mendalilkan dalam aduannya terhadap Para Teradu,
lembar/halaman ke-5 poin 5 angka 1, menyebutkan bahwa :
“... saksi MUBAROK telah melaporkan dugaan tindak pidananya kepada Para
Teradu berdasarkan Tanda Bukti Penyampaian Laporan No.
29/PL/PB/Kab/11.07/XII/2020 tanggal 11 Desember 2020”
Bahwa benar Para Teradu menerima laporan dugaan pelanggaran pidana
Pemilihan No. 29/PL/PB/Kab/11.07/XII/2020 tanggal 11 Desember 2020 dari
Pelapor bernama MUBAROK terkait adanya dugaan pemberian uang oleh salah
satu warga kepada pemilik hak suara TPS 01 Kp. Dadap Desa Ciagel Kecamatan
Kibin Kabupaten Serang-Banten pada saat tahapan Pungut Hitung (Rabu, 09
Desember 2020 sekitar jam 08.30 WIB), dan Para Teradu telah memberikan Tanda
Bukti Penerimaan Laporan Nomor 29/PL/PB/Kab/11.07/XII/2020 tanggal 11
Desember 2020 sebagaimana ketentuan Pasal 14 ayat (3) Peraturan Badan
Pengawas Pemilihan Umum Nomor 8 Tahun 2020 tentang Penanganan
Pelanggaran Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati
serta Wali Kota dan Wakil Wali Kota (Perbawaslu Nomor 8 Tahun 2020) (Bukti T-1)
6. Bahwa Pengadu mendalilkan dalam aduannya terhadap Para Teradu, pada dalil
pengadu lembar/halaman ke-5 poin 5 angka 2, menyebutkan bahwa:
“....sebelumnya telah terlebih dahulu pada hari pencoblosan tanggal 9 Desember
2020 Teradu I telah menerima informasi secara lisan dari masyarakat lainnya atas
peristiwa dugaan tindak pidana tersebut oleh karenanya menjadi Temuan Para
Teradu sebagaimana dimaksud pada Pasal 3, Pasal 19, Pasal 20, Pasal 21
Peraturan Badan Pengawas Pemilihan Umum RI Nomor 8 Tahun 2020 tentang
Penanganan Pelanggaran Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan
Wakil Bupati serta Wali Kota dan Wakil Wali Kota yang sampai saat ini tidak dapat
dipertanggung jawabkan penanganan temuan tersebut oleh para teradu”
Bahwa Penanganan terhadap informasi lisan yang didalilkan oleh pengadu
tersebut, Teradu 1 telah mencatatkannya dalam Formulir Model A.6 (Bukti T-2),
yang telah diplenokan (Bukti T-3-BA Pleno) dengan kesimpulan bahwa adanya
kesamaan objek dan peristiwa pada informasi awal dengan laporan laporan No.
29/PL/PB/Kab/11.07/XII/2020 maka penanganan informasi awal tersebut
digabungkan dengan laporan No. 29/PL/PB/Kab/11.07/XII/2020 tanggal 11
Desember 2020 sebagaimana ketentuan Perbawaslu Nomor 8 Tahun 2020 Pasal 19
ayat 2 dan ayat 3, yang menyatakan :
“(3) Informasi awal yang diterima oleh Bawaslu, Bawaslu Provinsi, Bawaslu
Kabupaten/Kota, atau Panwaslu Kecamatan sebagaimana dimaksud dalam ayat
(2), dicatat dalam Formulir Model A.6 untuk selanjutnya dilakukan rapat pleno
untuk memutuskan tindaklanjut atas informasi awal”
7. Bahwa terhadap dalil aduan pengadu terkait telah menyampaikan laporan yang
memenuhi syarat dan tata cara penyampaian laporan, Para Teradu telah
melakukan register atas laporan tersebut sesuai dengan Peraturan Bawaslu 8
Tahun 2020 Pasal 6 dan Pasal 11 dengan Nomor Register Laporan
No.24/Reg/LP/PB/KAB/11.07/XII/2020 tanggal 13 Desember 2020 (Bukti T-4 &
Bukti T-5);
8. Bahwa sesuai dengan laporan pelapor Nomor : 29/PL/PB/KAB/11.07/XII/2020,
Tanggal 11 Desember 2020 yang pada pokoknya menyampaikan :
“adanya pemberi uang oleh salah satu warga kepada pemilik hak suara di TPS 01
Kampung Dadap, Desa Ciagel, Kecamatan Kibin, Kabupaten Serang.”
Bahwa setelah dilakukan Kajian Awal, sesuai dengan uraian dugaan peristiwa yang
pada pokoknya tentang dugaan tindak pidana pemberian uang, maka Bawaslu
Kabupaten Serang bersama dengan Penyidik Kepolisian Polres Serang dan
Penuntut Umum Kejaksaan Serang yang tergabung dalam Sentra Penegakan
Hukum Terpadu (Sentra Gakkumdu) melakukan rapat Pembahasan Pertama
Sentra Gakkumdu (SG I) sebagaimana ketentuan dalam Peraturan Bersama Ketua
BAWASLU RI, Kapolri dan Jaksa Agung RI No. 5 tahun 2020, No. 1 tahun 2020
dan No. 14 tahun 2020 tentang Sentra Penegakan Hukum Terpadu Pada Pemilihan
Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, Serta Walikota dan Wakil
Walikota (Peraturan Bersama Sentra Gakkumdu) Pasal 17 ayat (1) menyatakan
bahwa :
“Pengawas Pemilihan, Penyidik tindak pidana pemilihan dan Jaksa pada Sentra
Gakkumdu paling lama 1 x 24 jam terhitung sejak tanggal laporan/temuan diterima
oleh Pengawas Pemilihan melakukan pembahasan pertama”
Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 17 ayat (2) Peraturan Bersama Sentra
Gakkumdu Bawaslu Kabupaten Serang melakukan pembahasan pertama untuk
menemukan peristiwa pidana Pemilihan, mencari dan mengumpulkan bukti- bukti
serta selanjutnya menentukan pasal yang akan disangkakan terhadap peristiwa
yang dilaporkan/ditemukan. (Bukti T-6)
9. Bahwa selanjutnya hasil dari rapat pembahasan pertama Sentra Gakkumdu (SG I),
Para Teradu telah melakukan langkah sebagai berikut :
- Melakukan Klarifikasi Pada Pelapor ( MUBAROK) pada tanggal 14 Desember
2020 (Bukti T-7, & Bukti T-8);
- Melakukan Klarifikasi pada saksi Pelapor (MAHYAR) pada tanggal 14 Desember
2020 (Bukti T-9, & Bukti T-10):
- Melakukan Klarifikasi pada Terlapor (IWAN KURNIAWAN) tanggal 15 Desember
2020, namun yang bersangkutan tidak hadir (Bukti T-11);
- Selanjutnya Terlapor dipanggil kembali pada tanggal 16, & 17 Desember 2020,
namun lagi-lagi yang bersangkutan tidak hadir (Bukti T-12, & Bukti T-13);
- Melakukan Klarifikasi saksi-saksi dilapangan:
a. Opi Lahardi, pada tanggal 15 Desember 2020 (Bukti T-14);
b. Taufik Hidayat, tanggal 15 Desember 2020 (Bukti T-15);
c. Sami, tanggal 15 Desember 2020 (Bukti T-16);
d. Kamturah, tanggal 15 Desember 2020 namun yang bersangkutan tidak
hadir (Bukti T-17);
e. Munah, tanggal 15 Desember 2020 namun yang bersangkutan tidak hadir
(Bukti T-18);
10. Bahwa setelah melakukan serangkaian proses penanganan pelanggaran
sebagaimana diatas, Para Teradu/Bawaslu Kabupaten Serang bersama Penyidik
Polres Kabupaten Serang dan dan Penuntut Umum pada Kejaksaan Kabupaten
Serang yang tergabung dalam Sentra Penegakan Hukum Terpadu (Sentra
Gakkumdu) Kabupaten Serang melakukan Rapat Pembahasan Kedua Sentra
Gakkumdu (SG II) untuk menentukan Laporan/Temuan apakah merupakan dugaan
tindak pidana pemilihan atau bukan merupakan tindak pidana pemilihan dengan
didukung minimal 2 (dua) alat bukti (Bukti T-19)
Bahwa pada Pembahasan Kedua tersebut, Bawaslu Kabupaten Serang, Kepolisian
dan Kejaksaan memberi tanggapan/pendapat yang pada kesimpulannya:
1) setelah dilakukan klarifikasi pelapor dan para saksi tidak ada persesuaian
keterangan antar mereka;
2) tidak ditemukan barang bukti berupa uang yang menjadi pokok perkara dalam
dugaan politik uang sehinga tidak terpenuhinya dua alat bukti sebagimana
ketentuan dalam Pasal 183 KUHAP. (Bukti T-19)
Bahwa berdasarkan Pembahasan Kedua tersebut, Bawaslu Kabupaten Serang
melakukan Rapat Pleno sebagaimana ketentuan dalam Peraturan Bersama Sentra
Gakkumdu Pasal 21 ayat 2 untuk memutuskan apakah laporan/temuan
ditingkatkan ke tahap Penyidikan atau dihentikan yang pada pokoknya
memutuskan :
1) Laporan dihentikan dan tidak ditindak lanjuti ke tahap penyidikan terhadap
kasus a quo;
2) Hasil Pleno putusan selanjutnya dituangkan dalam status laporan;
3) Status Laporan sebagaimana dimaksud pada poin 2 selanjutnya disampaikan
kepada pihak pelapor dan ditempel pada papan pengumuman sekretariat
Bawaslu Kabupaten Serang. (Bukti T-20)
11. Bahwa berdasarkan Hasil Rapat Pembahasan Sentra Gakkumdu Kedua dan Hasil
Rapat Pleno, Para Teradu/Bawaslu Kabupaten membuat Pemberitahuan tentang
Status Laporan sebagaimana ketentuan Pasal 37 Perbawaslu Nomor 8 Tahun
2020 dan mengumumkannya pada papan pengumuman (Bukti T-21) serta
memberitahukannya pada Pelapor (MUBAROK) dengan Pemberitahuan tentang
Status Laporan tertanggal 18 Desember 2020 Nomor Register No.
24/Reg/LP/PB/KAB/11.07/XII/2020 dengan status dihentikan. (Bukti T-22)
12. Bahwa Pengadu mendalilkan dalam aduannya terhadap Para Teradu,
lembar/halaman ke-6 poin 5 angka 5, menyebutkan bahwa :
“Pemeriksaan terhadap Saksi MUBAROK dilakukan oleh pemeriksa Sdr. Toiful
tanpa didampingi oleh Para Teradu atau Penyidik/Jaksa Sentra Gakkumdu
Kabupaten Serang, sedangkan untuk Saksi Mahyar dilakukan oleh Pemeriksa Sdr.
Hasan juga tanpa didampingi oleh Para Teradu dan/atau Penyidik dan/atau Jaksa
pada Sentra Gakkumdu Kabupaten Serang”
Bahwa terkait dalil Pengadu tersebut diatas, dalam melakukan pemeriksaan
terhadap saksi MUBAROK dan Saksi MAHYAR, Penyidik Tindak Pidana Pemilihan
dan Jaksa yang tergabung dalam Sentra Gakkumdu telah melakukan
pendampingan (Bukti T-23) sebagaimana ketentuan Pasal 18 Peraturan Bersama
Sentra Gakkumdu.
13. Bahwa Sdr. Toiful (seharusnya Toifur) dan Sdr. Hasan adalah staf Sekretariat
Bawaslu Kabupaten Serang yang tergabung dalam Tim Penerimaan Laporan dan
Klarifikasi Pelanggaran Badan Pengawas Pemilihan Umum Kabupaten Serang
pada Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Serang berdasarkan Surat
Keputusan Ketua Badan Pengawas Pemilihan Umum Kabupaten Serang Nomor :
03/K.BT.03/HK.01.01/I/2020 tentang Penetapan Tim Penerimaan Laporan dan
Klarifikasi Pelanggaran Badan Pengawas Pemilihan Umum Kabupaten Serang
pada Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Serang yang bertindak
untuk melakukan klarifikasi atau meminta keterangan dalam proses penanganan
pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 Perbawaslu 8 Tahun 2020;
(Bukti T-24)
Bahwa sebagaimana ketentuan Pasal 29 ayat (1) dan ayat (2) Perbawaslu 8 Tahun
2020, menyatakan bahwa :
(1) Untuk melakukan klarifikasi atau meminta keterangan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 26, Bawaslu Kabupaten/Kota dapat membentuk tim
klarifikasi;
(2) Tim Klarifikasi Bawaslu Kabupaten/Kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
terdiri dari:
a. Ketua dan/atau Anggota;
b. Pejabat Struktural; dan/atau
c. Staf sekretariat Bawaslu Kabupaten/Kota;
Bahwa sebagaimana diatas, Sdr. Toiful (seharusnya Toifur) dan Sdr. Hasan
adalah anggota Tim Penerimaan Laporan dan Klarifikasi Pelanggaran Badan
Pengawas Pemilihan Umum Kabupaten Serang memiliki kedudukan hukum (legal
standing) untuk melakukan klarifikasi, termasuk pada proses penanganan
laporan dugaan pelanggaran Nomor. 24/Reg/LP/PB/KAB/11.07/XII/2020.
14. Bahwa Pengadu mendalilkan dalam aduannya terhadap Para Teradu,
lembar/halaman ke-6 poin 5.A angka 1, menyatakan :
“Bahwa Para Teradu telah melanggar peraturan perundang-undangan yang
berlaku terkait Penanganan Pelanggaran Dugaan Tindak Pidana Pemilu yang
secara nyata-nyata telah berpihak pada salah satu pasangan calon pada
pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Serang tahun 2020”
Bahwa Para Teradu telah melakukan proses penanganan sesuai mekanisme
penanganan pelanggaran berdasarkan peraturan perundang-undangan dan
bekerja secara profesional dan tidak berpihak pada salah satu pasangan calon
pada pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Serang tahun 2020.
15. Bahwa pengadu mendalilkan dalam aduannya terhadap Para Teradu,
lembar/halaman ke-6 poin 5.A angka 2 dan 3 yang pada pokok aduannya Teradu
I telah menerbitkan Surat Pemberitahuan Tentang Status Laporan tentang laporan
tidak dapat dilanjutkan ... alasan-alasan yang diberitahukan oleh Para Teradu dan
tidak beralasan menurut hukum dan tidak dapat dibenarkan, sehingga
pemberitahuan tersebut tidak dituangkan dalam formulir Model A. 17.
Bahwa penerbitan Pemberitahuan Tentang Status Laporan yang dibuat oleh
Teradu I telah sesuai dengan ketentuan Pasal 37 ayat (1) Perbawaslu 8 Tahun
2020. (Bukti T-22)
Bahwa terhadap dalil aduan pengadu mengenai alasan-alasan yang tidak
beralasan menurut hukum dan tidak dapat dibenarkan, Para Teradu/Bawaslu
Kabupaten Serang
telah membahasnya berdasarkan hukum dalam Rapat Pembahasan Kedua Sentra
Gakkumdu (SG II) bersama Penyidik Polres Kabupaten Serang dan dan Penuntut
Umum pada Kejaksaan Negeri Serang. (Bukti T-19)
Bahwa terhadap dalil aduan pengadu tekait pemberitahuan yang tidak
dituangkan dalam formulir Model A.17, Para Teradu/Bawaslu Kabupaten Serang
telah menuangkannya dalam Pemberitahuan tentang Status Laporan. (Bukti T-
22)
16. Bahwa Pengadu mendalilkan dalam aduannya terhadap Para Teradu,
lembar/halaman ke-7 poin 5.A angka 4, menyatakan :
“Bahwa Para Teradu dalam melakukan penanganan pelanggaran tindak pemilu
pidana hanya dapat menghentikan penanganannya apabila tidak terdapat unsur
Pidana dan/atau perbuatan yang dilaporkan termasuk pelanggaran terhadap
ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya dan wajib diteruskan kepada
Penyidik Kepolisian RI pada Sentra GAKKUMDU sesuai ketentuan Pasal 35 ayat
(1) Peraturan Badan Pengawas Pemilihan Umum RI No. 8 Tahun 2020”
Bahwa penggunaan pasal 35 ayat (1) yang disampaikan oleh Pengadu adalah
tidak tepat karena tindak lanjut yang dimaksud dalam pasal tersebut diatas
hanya dapat dilakukan apabila telah diputuskan dalam Pembahasan Kedua
Sentra Gakkumdu dan Rapat Pleno Ketua dan Anggota Bawaslu Kabupaten
Serang.
17. Bahwa Pengadu mendalilkan dalam aduannya terhadap Para Teradu,
lembar/halaman ke-7 poin 5. A angka 4,5, dan 6, Para Teradu akan menjelaskan
sesuai dengan Mekanisme Penanganan Pelanggaran menurut Perbawaslu 8
Tahun 2020 dan Peraturan Bersama Sentra Gakkumdu dalam perkara a quo
dengan kronologis sebagai berikut :
- Para Teradu telah menerima Laporan dari Pelapor yang dituangkan dalam
Formulir A.1 Laporan;
- Para Teradu telah melakukan kajian awal sesuai dengan Pasal 9 Perbawaslu 8
Tahun 2020 terhadap laporan tersebut yang pada pokoknya laporan tersebut
dapat diregister dan terdapat dugaan tindak pidana pemilihan;
- Terhadap laporan dugaan tindak pidana pemilihan, dalam waktu 1x24 jam,
Bawaslu Kabupaten Serang bersama dengan Penyidik Kepolisian Kabupaten
Serang dan Penuntut Umum pada Kejaksaan Serang yang tergabung pada
Sentra Gakkumdu melakukan pembahasan pertama Sentra Gakkumdu (SG I);
- Hasil pembahasan pertama Sentra Gakkumdu (SG I) menyatakan pada
pokoknya diduga terlapor melanggar Pasal 73 ayat 4 Jo 187A UU 10 Tahun
2016 untuk kemudian dilakukan klarifikasi kepada pelapor, saksi-saksi dan
terlapor;
- Berdasarkan hasil pembahasan pertama Sentra Gakkumdu (SG I), Para Teradu
melakukan klarifikasi terhadap pelapor, saksi-saksi dan terlapor sesuai degan
Pasal 26 Perbawaslu 8 Tahun 2020;
- Berdasarkan hasil klarifikasi terhadap pelapor, saksi-saksi dan terlapor, Para
Teradu/Bawaslu Kabupaten Serang dengan Penyidik Kepolisian Kabupaten
Serang dan Penuntut Umum pada Kejaksaan Serang yang tergabung pada
Sentra Gakkumdu melakukan Rapat Pembahasan Kedua Sentra Gakkumdu
(SG II) sesuai dengan Pasal 20 Peraturan Bersama Sentra Gakkumdu yang
pada pokoknya :
(1) setelah dilakukan klarifikasi pelapor dan para saksi tidak ada persesuaian
keterangan antar mereka;
(2) tidak ditemukan barang bukti berupa uang yang menjadi pokok perkara
dalam dugaan politik uang sehinga tidak terpenuhinya dua alat bukti
sebagaimana ketentuan dalam Pasal 183 KUHAP.
- Bahwa berdasarkan Pembahasan Kedua tersebut, Bawaslu Kabupaten Serang
melakukan Rapat Pleno sebagaimana ketentuan dalam Peraturan Bersama
Sentra Gakkumdu Pasal 21 ayat 2 yang pada pokoknya memutuskan Laporan
dihentikan dan tidak ditindaklanjuti ke tahap penyidikan.
- Sebagaimana ketentuan Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) Peraturan Bersama
Sentra Gakkumdu, menyatakan bahwa :
(1) Hasil Pembahasan kedua, kajian dan Laporan Hasil Penyelidikan
menjadi dasar pengawas pemilihan memutuskan dalam rapat pleno.
(2) Rapat pleno sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk memutuskan
apakah laporan/temuan ditingkatkan ke tahap Penyidikan atau
dihentikan.
Berdasarkan mekanisme yang telah dijalankan oleh Para Teradu sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan sebagaimana diatas, maka dalil
pengadu diantaranya :
- Pada dalil aduan pengadu lembar/halaman ke-7 Poin 5 Angka 4
menyatakan bahwa “....dalam melakukan penanganan pelanggaran tindak
pidana pemilu hanya dapat menghentikan penangannya apabila tidak
terdapat unsur Pidana dan/atau perbuatan yang dilaporkan termasuk
pelanggaran terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya dan
wajib diteruskan kepada Penyidik Kepolisian RI pada Sentra GAKKUMDU...”
- Pada dalil aduan pengadu lembar/halaman ke-7 Poin 5 Angka 5
menyatakan bahwa “...Para Teradu wajib meneruskan dan menindaklanjuti
laporan tersebut kepada Penyidik Kepolisan oleh karenanya Para Teradu
tidak dapat menghentikan perkara tersebut...”
- Pada dalil aduan pengadu lembar/halaman ke-7 Poin 5 Angka 6
menyatakan bahwa “...penghentian penanganan dan tidak diteruskan
Laporan No. 24/Reg/LP/PB/KAB/11.07/XII/2020 oleh Para Teradu
bertentangan dengan hukum dan telah melampaui kewenangan yang
diberikan Peraturan Perudang-undangan...”
adalah tidak tepat dan tidak beralasan menurut hukum, sehingga dalil aduan
pengadu pada lembar/halaman ke-7 Poin 5 Angka 4,5, dan 6 haruslah
diabaikan.
18. Bahwa Pengadu mendalilkan dalam aduannya terhadap Para Teradu,
lembar/halaman ke-8 poin 5.A angka 7, menyatakan :
“Bahwa dalam menjalankan tugasnya pada pelaksanaan pemberian mandat
dan/atau pemeriksaan klarifikasi oleh Para Teradu melalui Sdr. Toiful dan Sdr.
Hasan dalam pemeriksaan Saksi MUBAROK selaku Saksi Pelapor dan Saksi
berdasarkan Laporan Dugaan Tindak Pidana Pemilu No.
24/Reg/LP/PB/KAB/11.07/XII/2020 dilakukan tidak sesuai hukum dan
bertentangan dengan Peraturan Perundang-undangan”
Bahwa para Teradu telah menjalankan tugasnya sebagai tim klarifikasi
berdasarkan SK Tim Penerima Laporan dan Klarifikasi Penanganan Pelanggaran
Bawaslu Kabupaten Serang dan telah menjalankan tugasnya sesuai hukum dan
peraturan perundang-undangan, sebagaimana jawaban teradu pada halaman 5
angka 12 diatas.
19. Bahwa Pengadu mendalilkan dalam aduannya terhadap Para Teradu,
lembar/halaman ke-8 poin 5. A angka 8,9, dan 11 yang pada pokoknya Para
teradu melanggar ketentuan diantaranya :
- Pasal 21 ayat (5) Peraturan Badan Pengawas Pemilihan Umum No. 31
tahun 2018 tentang Sentra Penegakan Hukum Terpadu
Pasal 23 ayat (4) Peraturan Badan Pengawas Pemilihan Umum No. 31
tahun 2018 tentang Sentra Penegakan Hukum Terpadu
- Pasal 23 ayat (5) Peraturan Badan Pengawas Pemilihan Umum No. 31
tahun 2018 tentang Sentra Penegakan Hukum Terpadu
Adalah tidak beralasan, dikarenakan Peraturan Badan Pengawas Pemilihan Umum
No. 31 tahun 2018 tentang Sentra Gakkumdu pada Pemilihan Umum bukan
tentang peraturan Sentra Gakkumdu pada Pemilihan Gubernur, Bupati dan
Walikota.
20. Bahwa Pengadu mendalilkan dalam aduannya terhadap Para Teradu,
lembar/halaman ke-8 poin 5. A angka 10 dan 12, yang pada pokoknya “alasan
penghentian penanganan pelanggaran TIDAK ADA KESESUAIAN dan alasan TIDAK
CUKUP BUKTI adalah cacat hukum dan bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku” Para Teradu menyampaikan bahwa alasan
tersebut tidak bertentangan dengan Peraturan Bawaslu Nomor 8 Tahun 2020
(Lampiran Perbawaslu 8 Tahun 2020-Formulir Model A.17 Pemberitahuan
Tentang Status Laporan/Temuan).
Bahwa TIDAK ADA KESESUAIAN dan alasan TIDAK CUKUP BUKTI adalah bagian
dari alasan lainnya sebagai alasan tidak ditindaklanjutinya Laporan a quo
sebagaimana yang dimaksud dalam Peraturan Bawaslu Nomor 8 Tahun 2020
(Lampiran Perbawaslu 8 Tahun 2020-Formulir Model A.17 Pemberitahuan
Tentang Status Laporan/Temuan Pengawas Pemilihan).
Bahwa berdasarkan seluruh uraian sebagaimana tersebut diatas, Para Teradu telah
menjalankan tugas dan fungsinya sebagai Pengawas Pemilihan pada proses
penanganan laporan yang diajukan oleh Pelapor dengan Nomor Register
24/Reg/LP/PB/KAB/11.07/XII/2020 dan telah berdasarkan peraturan perundang-
undangan yang berlaku, dan telah sesuai dengan prinsip penyelenggara pemilu yang
mandiri, adil, berkepastian hukum, profesional dan akuntabel.
[2.6] PETITUM PARA TERADU
Berdasarkan uraian di atas, para Teradu memohon kepada Majelis Sidang DKPP yang
memeriksa dan mengadili pengaduan a quo untuk memberikan Putusan sebagai
berikut:
1. Menolak Pengaduan Pengadu untuk seluruhnya;
2. Menyatakan Para Teradu tidak terbukti melakukan pelanggaran Kode Etik dan
Pedoman Perilaku Penyelenggara Pemilu;
3. Merehabilitasi nama baik Para Teradu dalam kedudukannya sebagai penyelenggara
pemilu; dan
4. Apabila Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilihan Umum berpendapat lain,
mohon memberikan putusan yang seadil-adilnya (ex aequo et bono).
[2.7] BUKTI PARA TERADU
Bahwa untuk membuktikan jawaban dan pembelaannya, para Teradu mengajukan alat
bukti berupa T-1 s.d T-24, sebagai berikut:
NO. BUKTI KETERANGAN
1. T-1 Formulir Model A.3 – Tanda terima penyampaian laporan (Bahwa bukti
ini diajukan untuk menerangkan benar Bawaslu Kabupaten Serang
telah menerima laporan dugaan politik uang yang sampaikan oleh sdr.
Mubarok.);
2. T-2 Formulir Model A.6 – Informasi Awal (Bahwa bukti ini diajukan untuk
menerangkan benar bahwa pihak teradu 1 telah menerima informasi
awal);
3. T-3 Berita acara Pleno Informasi Awal (Bahwa bukti ini diajukan untuk
menerangkan bahwa ketua dan anggota Bawaslu Kabupaten Serang
telah melaksanakan pleno terkait informasi awal yang diterima);
4. T-4 Formulir Model A.1 – Formulir Laporan (Bahwa bukti ini diajukan
untuk menerangkan bahwa benar Bawaslu Kabupaten Serang telah
menerima laporan dari sdr. Mubarok yang dituangkan kedalam
Formulir Laporan.);
5. T-5 Berita acara Pleno Kajian Awal (Bahwa bukti ini diajukan untuk
menerangkan bahwa ketua dan anggota Bawaslu Kabupaten Serang
telah mengadakan pleno kajian awal terkait laporan yang disampaikan
oleh sdr. Mubarok);
6. T-6 Berita acara Pembahasan I (Bahwa bukti ini diajukan untuk
menerangkan bahwa benar Sentra Gakkumdu Kabupaten Serang telah
melakukan pembahasan I);
7. T-7 Undangan Klarifikasi Pelapor (Bahwa bukti ini diajukan untuk
menerangkan bahwa benar Bawaslu Kabupaten Serang mengundang
pelapor untuk klarifikasi);
8. T-8 Berita acara klarifikasi pelapor (Bahwa bukti ini diajukan untuk
menerangkan bahwa benar Bawaslu Kabupaten Serang telah
melakukan klarifikasi terhadap pelapor);
9. T-9 Undangan klarifikasi saksi Pelapor (Bahwa bukti ini diajukan untuk
menerangkan bahwa benar Bawaslu Kabupaten Serang mengundang
saksi pelapor untuk klarifikasi);
10. T-10 Berita acara klarifikasi saksi pelapor (Bahwa bukti ini diajukan untuk
menerangkan bahwa benar Bawaslu Kabupaten Serang telah
melakukan klarifikasi terhadap saksi pelapor);
11. T-11 Undangan klarifikasi terlapor (Bahwa bukti ini diajukan untuk
menerangkan bahwa benar Bawaslu Kabupaten Serang mengundang
terlapor untuk klarifikasi);
12. T-12 Undangan klarifikasi kedua terlapor (Bahwa bukti ini diajukan untuk
menerangkan bahwa benar Bawaslu Kabupaten Serang mengundang
terlapor yang kedua kalinya untuk klarifikasi);
13. T-13 Undangan klarifikasi ketiga terlapor (Bahwa bukti ini diajukan untuk
menerangkan bahwa benar Bawaslu Kabupaten Serang mengundang
terlapor yang ketiga kalinya untuk klarifikasi);
14. T-14 Berita acara klarifikasi saksi a.n Opi Lahardi (Bahwa bukti ini diajukan
untuk menerangkan bahwa benar Bawaslu Kabupaten Serang telah
melakukan klarifikasi terhadap sdr. Opi Lahardi);
15. T-15 Berita acara klarifikasi saksi a.n Taufik Hidayat (Bahwa bukti ini
diajukan untuk menerangkan bahwa benar Bawaslu Kabupaten
Serang telah melakukan klarifikasi terhadap sdr. Taufik Hidayat)
16. T-16 Berita acara klarifikasi saksi a.n Sami (Bahwa bukti ini diajukan untuk
menerangkan bahwa benar Bawaslu Kabupaten Serang telah
melakukan klarifikasi terhadap ibu Sami);
17. T-17 Undangan klarifikasi saksi (Bahwa bukti ini diajukan untuk
menerangkan bahwa benar Bawaslu Kabupaten Serang mengundang
saksi untuk klarifikasi);
18. T-18 Undangan klarifikasi saksi (Bahwa bukti ini diajukan untuk
menerangkan bahwa benar Bawaslu Kabupaten Serang mengundang
saksi untuk klarifikasi.);
19. T-19 Berita acara pembahasan II (Bahwa bukti ini diajukan untuk
menerangkan bahwa benar Sentra Gakkumdu Kabupaten Serang telah
melakukan pembahasan II);
20. T-20 Berita acara rapat pleno putusan (Bahwa bukti ini diajukan untuk
menerangkan bahwa benar Ketua dan Anggota Bawaslu Kabupaten
Serang melakukan pleno atas putusan dari laporan nomor .
24/Reg/LP/PB/KAB/11.07/XII/2020);
21. T-21 Dokumentasi status laporan (Bahwa bukti ini diajukan untuk
menerangkan bahwa benar status laporan telah diumumkan di papan
informasi kantor Bawaslu Kabupaten Serang);
22. T-22 Pemberitahuan tentang status laporan (Bahwa bukti ini diajukan
untuk menerangkan bahwa benar Bawaslu Kabupaten Serang telah
menerbitkan Pemberitahuan tentang status laporan);
23. T-23 Dokumentasi pendampingan tim sentra gakkumdu (Bahwa bukti ini
diajukan untuk menerangkan bahwa benar tim sentra Gakkumdu
Kabupaten Serang mendampingi saat klarifikasi sdr. Mubarok)
24. T-24 SK Tim penerimaan laporan dan Klarifikasi Pelanggaran Badan
Pengawas Pemilihan Umum Kabupaten Serang pada Pemilihan Bupati
dan Wakil Bupati Kabupaten Serang (Bahwa bukti ini diajukan untuk
menerangkan bahwa benar sdr. Toifur dan sdr. Hasan anggota Tim
Penerimaan Laporan dan Klarifikasi Pelanggaran Badan Pengawas
Pemilihan Umum Kabupaten Serang memiliki kedudukan hukum
(legal standing) untuk melakukan klarifikasi, termasuk pada proses
penanganan laporan dugaan pelanggaran Nomor.
24/Reg/LP/PB/KAB/11.07/XII/2020)
[2.8] PIHAK TERKAIT
[2.8.1] SENTRA GAKKUMDU BAWASLU KABUPATEN SERANG
Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu memanggil Sentra Gakkumdu Bawaslu
Kabupaten Serang Selaku Pihak Terkait dan memberikan keterangan bahwa dari awal
peristiwa pada tanggal 9 Desember 2020 kami langsung turun ke TKP bersama
Bawaslu dan Kejaksaan untuk mengecek kebenaran persitiwa tersebut. Pihak Terkait
menjelaskan Bahwa benar ada Laporan dari Mubarok dan melakukan pendampingan
saat melakukan klarifikasi. Pihak Terkait membenarkan diundang untuk Pembahasan
Pertama Sentra Gakkumdu dan berkesimpulan untuk melakukan klarifikasi ke para
Pihak. Setelh dilakukan klarifikasi, dilakukan pembahasan Sentra Gakkumdu Kedua
dan terdapat fakta bahwa Ibu Sarmi yang diberi uang bukan karena untuk memilih
salah satu Paslon. Piahk Terkait menjelaskan bahwa saksi pelapor yang menyaksikan
hanya 1 orang dan berdasarkan klarifikasi kepada penerima tidak ada ajakan untuk
memilih paslon dan tidak ada persesuaian dengan video yang dijadikan bukti.
[2.8.2] TOIFUR
Bawaslu Kabupaten Serang menghadirkan Staf Bawaslu Kabupaten Serang Selaku
Pihak Terkait dan memberikan keterangan bahwa dirinya merupakan Staf Bawaslu
Kabupatens Serang dan mempunyai SK Pengangkatan sebagai staf serta ada SK
Pengangkatan sebagai tim klarifikasi.
[2.8.3] HASAN
Bawaslu Kabupaten Serang menghadirkan Staf Bawaslu Kabupaten Serang Selaku
Pihak Terkait dan memberikan keterangan bahwa dirinya adalah staf Bawaslu
Kabupaten Serang dan mempunyai SK Pengangkatan sebagai Tim Klarifikasi.
IV. KEWENANGAN DKPP DAN KEDUDUKAN HUKUM
[3.1] Menimbang bahwa maksud dan tujuan pengaduan Pengadu adalah terkait
dengan dugaan Pelanggaran Kode Etik dan Pedoman Perilaku Penyelenggara Pemilu
yang dilakukan oleh Para Teradu;
[3.2] Menimbang bahwa sebelum mempertimbangkan pokok pengaduan Pengadu,
Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (selanjutnya disebut sebagai DKPP) terlebih
dahulu akan menguraikan kewenangannya dan pihak-pihak yang memiliki kedudukan
hukum untuk mengajukan pengaduan sebagaimana berikut:
Kewenangan DKPP
[3.3] Menimbang bahwa DKPP dibentuk untuk menegakkan Kode Etik Penyelenggara
Pemilu. Hal demikian sesuai dengan ketentuan Pasal 155 ayat (2) Undang-Undang
Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum yang menyebutkan:
“DKPP dibentuk untuk memeriksa dan memutuskan aduan dan/atau laporan
adanya dugaan pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh anggota KPU,
anggota KPU Provinsi, anggota KPU Kabupaten/Kota, anggota Bawaslu, anggota
Bawaslu Provinsi, dan anggota Bawaslu Kabupaten/Kota”.
Selanjutnya ketentuan Pasal 159 ayat (2) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017
tentang Pemilihan Umum yang mengatur wewenang DKPP untuk:
a. Memanggil Penyelenggara Pemilu yang diduga melakukan pelanggaran kode
etik untuk memberikan penjelasan dan pembelaan;
b. Memanggil Pelapor, saksi, dan/atau pihak-pihak lain yang terkait untuk
dimintai keterangan, termasuk untuk dimintai dokumen atau bukti lain;
c. Memberikan sanksi kepada Penyelenggara Pemilu yang terbukti melanggar
kode etik; dan
d. Memutus Pelanggaran Kode Etik
Ketentuan di atas, diatur lebih lanjut dalam Pasal 3 ayat (2) Peraturan DKPP Nomor 3
Tahun 2017 tentang Pedoman Beracara Kode Etik Penyelenggara Pemilu sebagaimana
telah diubah dengan Peraturan DKPP Nomor 1 Tahun 2021 tentang Perubahan Kedua
Atas Peraturan DKPP Nomor 3 Tahun 2017 tentang Pedoman Beracara Kode Etik
Penyelenggara Pemilu yang menyebutkan bahwa penegakan kode etik dilaksanakan
oleh DKPP.
[3.4] Menimbang bahwa pengaduan Pengadu Terkait dengan dugaan pelanggaran Kode
Etik dan Pedoman Perilaku Penyelenggara Pemilu yang dilakukan oleh para Teradu,
maka DKPP berwenang untuk memutus pengaduan a quo;
Kedudukan Hukum
[3.5] Menimbang bahwa berdasarkan Pasal 458 ayat (1) Undang-Undang Nomor 7
Tahun 2017 juncto Pasal 4 ayat (1) Peraturan DKPP Nomor 3 Tahun 2017 tentang
Pedoman Beracara Kode Etik Penyelenggara Pemilu sebagaimana telah diubah dengan
Peraturan DKPP Nomor 1 Tahun 2021 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan DKPP
Nomor 3 Tahun 2017 tentang Pedoman Beracara Kode Etik Penyelenggara Pemilu,
pengaduan tentang dugaan adanya pelanggaran Kode Etik Penyelenggara Pemilu
diajukan secara tertulis oleh Penyelenggara Pemilu, Peserta Pemilu, tim kampanye,
masyarakat, dan/atau pemilih dilengkapi dengan identitas Pengadu kepada DKPP.
Selanjutnya ketentuan di atas diatur lebih lanjut dalam Pasal 4 ayat (2) Peraturan
DKPP Nomor 3 Tahun 2017 tentang Pedoman Beracara Kode Etik Penyelenggara
Pemilu sebagaimana telah diubah dengan Peraturan DKPP Nomor 1 Tahun 2021
tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan DKPP Nomor 3 Tahun 2017 tentang
Pedoman Beracara Kode Etik Penyelenggara Pemilu sebagai berikut:
“Pengaduan dan/atau laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan
oleh:
a. Penyelenggara Pemilu;
b. Peserta Pemilu;
c. Tim Kampanye;
d. Masyarakat; dan/atau
e. Pemilih”.
[3.6] Menimbang bahwa Pengadu adalah Peserta Pemilu sebagaimana diatur dalam
Pasal 4 ayat (2) huruf b Peraturan DKPP Nomor 3 Tahun 2017 tentang Pedoman
Beracara Kode Etik Penyelenggara Pemilu sebagaimana telah diubah dengan Peraturan
DKPP Nomor 1 Tahun 2021 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan DKPP Nomor 3
Tahun 2017 tentang Pedoman Beracara Kode Etik Penyelenggara Pemilu, dengan
demikian Pengadu memiliki kedudukan hukum (legal standing) untuk mengajukan
pengaduan a quo;
[3.7] Menimbang bahwa DKPP berwenang untuk mengadili pengaduan a quo, para
Pengadu memiliki kedudukan hukum (legal standing) untuk mengajukan pengaduan a
quo, maka selanjutnya DKPP mempertimbangkan pokok pengaduan.
V. PERTIMBANGAN PUTUSAN
[4.1] Menimbang Pengadu pada pokoknya mendalilkan Para Teradu diduga melanggar
kode etik dan pedoman perilaku penyelenggara pemilu atas tindakannya sebagai
berikut :
[4.1.1] Para Teradu diduga tidak profesional dan berkepastian hukum dalam
menangani laporan Nomor 29/PL/PB/Kab/11.07/XII/2020, tertanggal 11 Desember
2020 karena pemeriksaan pelapor dan saksi pelapor tanpa didampingi Para Teradu
dan/atau Penyidik atau Jaksa Sentra Gakkumdu Kabupaten Serang dan akhirnya
menghentikan penanganan laporan a quo;
[4.1.2] Teradu I diduga tidak menindaklanjuti informasi masyarakat tanggal 9
Desember 2020 tentang peristiwa pelanggaran pemilihan dan tidak menjadikan
informasi tersebut sebagai temuan;
[4.2] Menimbang keterangan dan jawaban Para Teradu pada pokoknya menolak
seluruh dalil aduan Pengadu. Dalam sidang pemeriksaan Para Teradu pada pokoknya
menjelaskan sebagai berikut :
[4.2.1] Pada tanggal 11 Desember 2020, Para Teradu telah menerima laporan dari
Mubarok tentang peristiwa pembagian uang oleh Terlapor Iwan Kurniawan kepada
pemilih di TPS 01, Kampung Dadap, Desa Ciagel, Kecamatan Kibin pada tanggal 9
Desember 2020. Atas laporan tersebut, Para Teradu menerbitkan tanda bukti
penerimaan laporan Nomor 29/PL/PB/Kab/11.07/XII/2020. Bahwa laporan a quo
dinyatakan telah memenuhi syarat formil dan syarat materiel sehingga diregister
dengan Nomor : 24/Reg/LP/PB/KAB/11.07/XII/2020, pada tanggal 13 Desember
2020.
Bahwa Para Teradu telah melakukan kajian awal dan menetapkan jika laporan a
quo terkait dengan dugaan tindak pidana politik uang. Sehingga dilakukan
pembahasan pertama Sentra Gakkumdu Kabupaten Serang pada tanggal 14 Desember
2020 dan memutuskan untuk melakukan klarifikasi kepada pelapor, saksi pelapor dan
terlapor pada tanggal 14 hingga 17 Desember 2020.
Bahwa Para Teradu menjelaskan pemeriksaan terhadap saksi Pelapor Mubarok dan
Saksi Mahyar telah didampingi Penyidik dan Jaksa Sentra Gakkumdu Kabupaten
Serang sebagaimana ketentuan Pasal 18 Peraturan Bersama Sentra Gakkumdu.
Bahwa Toifur dan Hasan adalah staf Sekretariat Bawaslu Kabupaten Serang
yang tergabung dalam Tim Penerimaan Laporan dan Klarifikasi Pelanggaran Badan
Pengawas Pemilihan Umum Kabupaten Serang pada Pemilihan Bupati dan Wakil
Bupati Kabupaten Serang. Sebagaimana Surat Keputusan Ketua Badan Pengawas
Pemilihan Umum Kabupaten Serang Nomor : 03/K.BT.03/HK.01.01/I/2020 tentang
Penetapan Tim Penerimaan Laporan dan Klarifikasi Pelanggaran Badan Pengawas
Pemilihan Umum Kabupaten Serang pada Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati
Kabupaten Serang yang bertindak untuk melakukan klarifikasi atau meminta
keterangan dalam proses penanganan pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 29 Perbawaslu 8 Tahun 2020. Selanjutnya, dalam ketentuan Pasal 29 ayat (1)
dan ayat (2) Perbawaslu 8 Tahun 2020, yang menyatakan bahwa dalam ayat (1) Untuk
melakukan klarifikasi atau meminta keterangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
26, Bawaslu Kabupaten/Kota dapat membentuk tim klarifikasi, ayat (2) Tim Klarifikasi
Bawaslu Kabupaten/Kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari Ketua
dan/atau Anggota, Pejabat Struktural; dan/atau dan Staf sekretariat Bawaslu
Kabupaten/Kota. Berdasarkan ketentuan di atas maka Toifur dan Hasan memiliki
kedudukan hukum (legal standing) untuk melakukan klarifikasi, termasuk pada proses
penanganan laporan dugaan pelanggaran Nomor
24/Reg/LP/PB/KAB/11.07/XII/2020.
Para Teradu menjelaskan bahwa terhadap laporan Nomor
29/PL/PB/KAB/11.07/XII/2020 yang pada pokoknya “adanya pemberi uang oleh
salah satu warga kepada pemilik hak suara di TPS 01 Kampung Dadap, Desa Ciagel,
Kecamatan Kibin, Kabupaten Serang” telah dilakukan kajian awal. Bahwa setelah
dilakukan kajian awal, maka adanya dugaan tindak pidana pemberian uang dan maka
dilakukan pembahasan pertama Sentra Gakkumdu (SG I). Hasil Rapat pembahasan
pertama Sentra Gakkumdu (SG I) memutuskan untuk melakukan klarifikasi pada
Pelapor, Terlapor dan para Saksi. Bahwa setelah dilakukan klarifikasi, maka para
Teradu bersama Sentra Gakkumdu melakukan pembahasan kedua dan menyimpulkan
tidak ada persesuaian keterangan antara pelapor, saksi-saksi dan tidak ditemukan
barang bukti berupa uang yang menjadi pokok perkara dalam dugaan politik uang.
Sehinga tidak terpenuhinya 2 (dua) alat bukti sebagimana ketentuan dalam Pasal 183
KUHAP. Maka para Teradu selanjutnya menempelkan status penanganan laporan
Nomor 24/Reg/LP/PB/KAB/11.07/XII/2020 di papan pengumuman Bawaslu
Kabupaten Serang.
[4.2.1] Terhadap dalil Pengadu pada angka [4.1.2], Teradu I menyatakan terhadap
informasi yang diberikan masyarakat berupa pesan whatsapp disertai video tersebut
telah ditindaklanjuti sesuai mekanisme dan ketentuan dalam Perbawaslu Nomor 8
Tahun 2020 tentang penanganan pelanggaran pemilihan Gubernur dan Wakil
Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati dan/atau Walikota dan Wakil Walikota.
Bahwa Teradu I setelah menerima informasi tersebut dari Munuf, wartawan
Banten Post, menindaklanjutinya dengan mengisi Formulir Model A.6 tentang
informasi awal yang menerangkan adanya informasi dugaan pelanggaran pemilihan
berupa politik uang di TPS 01, Kampung Dadap, Desa Ciagel, Kecamatan Kibin pada
tanggal 9 Desember 2020 pukul 09.46 WIB. Selanjutnya, Teradu I melakukan rapat
pleno bersama 3 (tiga) orang anggota Bawaslu Kabupaten Serang, yakni Abdurrohman,
Muhammad Asmawi dan Sulyantaruddin pada pukul 10.30 WIB guna membahas
informasi awal tersebut. Bawaslu Kabupaten Serang memutuskan informasi awal
tersebut ditindaklanjuti untuk dilakukan penelusuran dan membentuk tim
penelusuran.
Bahwa Teradu I menyatakan karena adanya kesamaan informasi awal dengan
laporan yang disampaikan Mubarok pada tanggal 11 Desember 2020 dan telah
diregister dengan Nomor 24/Reg/LP/PB/KAB/11.07/XII/2020. Maka penanganan
terhadap informasi awal digabungkan dengan laporan a quo.
[4.3] Menimbang jawaban dan keterangan Pengadu, Para Teradu, Saksi, Pihak Terkait
dan bukti dokumen serta fakta yang terungkap dalam sidang pemeriksaan DKPP
berpendapat :
[4.3.1] Menimbang dalil pada angka [4.1.1] dan [4.1.2] terungkap fakta, pada tanggal 9
Desember 2020 pukul 09.46 WIB, Teradu I menerima informasi via percakapan
whatsapp dari Munuf, wartawan Banten Post tentang adanya peristiwa dugaan
pelanggaran pemilihan berupa pembagian uang kepada pemilih dilengkapi alat bukti
video berdurasi 4 (empat) detik yang memuat rekaman kegiatan di TPS 01 Kampung
Dadap, Desa Ciagel, Kecamatan Kibin, Kabupaten Serang. Menindaklanjuti informasi
tersebut, Teradu I kemudian menerbitkan Formulir Model A.6 tentang informasi awal.
Selanjutnya Bawaslu Kabupaten Serang melaksanakan rapat pleno yang dihadiri 4
(empat) orang pimpinan dan memutuskan untuk dilakukan penelusuran dengan
membentuk tim investigasi. Berikutnya pada tanggal 11 Desember 2020, Bawaslu
Kabupaten Serang menerima laporan dari Mubarok tentang dugaan pelanggaran politik
uang di TPS 01 Kampung Dadap, Desa Ciagel, Kecamatan Kibin dan diterbitkan tanda
terima laporan nomor 29/PL/PB/Kab/11.07/XII/2020. Karena terdapat kesamaan
objek perkara dengan informasi yang diterima dari Munuf wartawan Banten Post dan
telah ditindaklanjuti membetuk tim investigasi, Para Teradu menempuh kebijakan
menggabungkan penanganan laporan a quo dengan penelusuran informasi awal yang
sedang berjalan.
Pada tanggal 13 Desember 2020, melakukan kajian awal dan menyimpulkan
laporan a quo memenuhi syarat formil dan materiil, kemudian diregister dengan Nomor
24/Reg/LP/PB/KAB/11.07/XII/2020. Berdasarkan pembahasan pertama Sentra
Gakkumdu disimpulkan Terlapor atas nama Iwan Setiawan diduga melanggar Pasal 73
ayat (4) jo Pasal 187A Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 dan segera melakukan
klarifikasi kepada Pelapor, Terlapor dan para saksi. Pada klarifikasi tanggal 14 s.d 17
Desember 2020, Para Teradu hanya berhasil mendapatkan keterangan dari pelapor
Mubarok, saksi pelapor Mahyar, saksi Opi Lahardi, saksi Taufik Hidayat dan saksi
Sami. Sedangkan Terlapor Iwan Setiawan tidak memenuhi undangan meskipun telah
dipanggil 3 (tiga) kali secara patut.
Hasil klarifikasi dilakukan pembahasan kedua Sentra Gakkumdu pada tanggal
17 Desember 2020, dengan kesimpulan keterangan pelapor dan para saksi tidak ada
bersesuaian sehingga tidak terpenuhi dua alat bukti. Untuk itu laporan a quo
dinyatakan tidak memenuhi unsur pelanggaran dan tidak dilanjutkan ketahap
penyidikan. Para Teradu kemudian menerbitkan pemberitahuan status penanganan
laporan dihentikan dan menempelkan di Papan Pengumuman pada tanggal 18
Desember 2020.
Terungkap fakta dalam sidang pemeriksaan, pada tanggal 14 Desember 2020,
klarifikasi terhadap Pelapor, Mubarok dan saksi Pelapor, Mahyar dilakukan oleh Toifur
dan Hasan, staf Sekretariat Bawaslu Kabupaten Serang. Keduanya melaksanakan
tugas berdasarkan Surat Keputusan Ketua Badan Pengawas Pemilihan Umum
Kabupaten Serang Nomor : 03/K.BT.03/HK.01.01/I/2020 tanggal 5 Januari 2020
tentang Penetapan Tim Penerimaan Laporan dan Klarifikasi Pelanggaran Badan
Pengawas Pemilihan Umum Kabupaten Serang pada Pemilihan Bupati dan Wakil
Bupati Kabupaten Serang. klarifikasi didampingi Penyidik dan Jaksa sebagai anggota
Sentra Gakkumdu Serang. Berdasarkan keterangan Pihak Terkait, Penyidik Polres
Serang, pendampingan terhadap penanganan laporan dugaan tindak pidana Pemilihan
telah dilakukan sejak pembahasan pertama sampai dengan pembahasan kedua Sentra
Gakkumdu.
Berdasarkan uraian fakta di atas, DKPP menilai tindakan para Teradu dalam
penanganan laporan nomor 24/Reg/LP/PB/KAB/11.07/XII/2020 telah sesuai dengan
peraturan perundang-undangan. Untuk melayani para pencari keadilan, sesuai
prosedur kerja sebagaimana ketentuan Pasal 29 ayat (1) dan ayat (2) Peraturan
Bawaslu Nomor 8 Tahun 2020 tentang penanganan pelanggaran pemilihan Gubernur
dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati dan/atau Walikota dan Wakil Walikota,
yang memerintahkan Bawaslu Kabupaten/Kota membentuk tim klarifikasi guna
meminta keterangan dan tim klarifikasi terdiri dari ketua dan/atau anggota, pejabat
struktural dan/atau staf Sekretariat Bawaslu Kabupaten/Kota, Para Teradu telah
melaksanakan kewajiban hukumnya menerbitkan Keputusan Nomor :
03/K.BT.03/HK.01.01/I/2020 tanggal 5 Januari 2020 tentang Penetapan Tim
Penerimaan Laporan dan Klarifikasi Pelanggaran Badan Pengawas Pemilihan Umum
Kabupaten Serang pada Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Serang.
Demikian pula sikap dan tindakan Teradu I segera menindaklanjuti informasi Munuf,
wartawan Banten Post atas dugaan pelanggaran pemilihan dengan mengisi formulir
A.6 dan melakukan pembahasan dalam rapat pleno Bawaslu Kabupaten Serang telah
sesuai dengan Pasal 19 ayat (2) dan ayat (3) Peraturan Bawaslu Nomor 8 Tahun 2020.
Para Teradu terbukti telah melaksanakan prinsip profesional, bekerja penuh
tanggungjawab dan berkomitmen tinggi sesuai standar operasional prosedur sehingga
hasilnya dapat dipertanggungjawabkan. Dengan demikian dalil aduan Pengadu tidak
terbukti dan jawaban Para Teradu meyakinkan DKPP. Para Teradu tidak terbukti
melanggar kode etik dan pedoman perilaku Penyelenggara Pemilu;
[4.4] Menimbang dalil Pengadu selebihnya, DKPP tidak relevan untuk
mempertimbangkan.
VI. KESIMPULAN
Berdasarkan atas penilaian fakta yang terungkap dalam persidangan sebagaimana
diuraikan di atas, setelah memeriksa keterangan Pengadu, memeriksa jawaban dan
keterangan Para Teradu, Keterangan Saksi, Pihak Terkait dan memeriksa segala bukti
dokumen Pengadu dan Para Teradu, Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu
menyimpulkan bahwa:
[5.1] Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu berwenang mengadili pengaduan
Pengadu;
[5.2] Pengadu memiliki kedudukan hukum (legal standing) untuk mengajukan
pengaduan a quo;
[5.3] Teradu I, Teradu II, Teradu III, Teradu IV, dan Teradu V tidak terbukti
melakukan pelanggaran Kode Etik dan Pedoman Perilaku Penyelenggara Pemilu;
Berdasarkan pertimbangan dan kesimpulan tersebut di atas;
MEMUTUSKAN
1. Menolak Pengaduan Pengadu untuk seluruhnya;
2. Merehabilitasi nama baik Teradu I Yadi selaku Ketua merangkap Anggota Bawaslu
Kabupaten Serang, Teradu II Sulyantarudin, Teradu III Abdurrohman, Teradu IV
Ari Setiawan dan Teradu V Muhammad Asmawi, masing-masing selaku Anggota
Bawaslu Kabupaten Serang;
3. Memerintahkan Bawaslu Provinsi Banten untuk melaksanakan putusan ini paling
lama 7 (tujuh) hari sejak dibacakan; dan
4. Memerintahkan Badan Pengawas Pemilu Republik Indonesia untuk mengawasi
pelaksanaan Putusan ini.
Demikian diputuskan dalam Rapat Pleno oleh 7 (tujuh) anggota Dewan Kehormatan
Penyelenggara Pemilihan Umum, yakni Muhammad selaku Ketua merangkap Anggota;
Alfitra Salam, Teguh Prasetyo, Didik Supriyanto, Ida Budhiati, Mochammad Afifuddin
dan Pramono Ubaid Tanthowi, masing-masing sebagai Anggota, pada hari Rabu tanggal
Tujuh Belas bulan Maret tahun Dua Ribu Dua Puluh Satu dan dibacakan dalam
sidang kode etik terbuka untuk umum pada hari ini Rabu tanggal Tiga Puluh Satu
bulan Maret tahun Dua Ribu Dua Puluh Satu oleh Alfitra Salam, Teguh Prasetyo, Didik
Supriyanto, dan Ida Budhiati, masing-masing sebagai Anggota.
ANGGOTA
Ttd Ttd
Alfitra Salam Teguh Prasetyo
Ttd Ttd
Didik Supriyanto Ida Budhiati
Asli Putusan ini telah ditandatangani secukupnya, dan dikeluarkan sebagai salinan
yang sama bunyinya.
SEKRETARIS PERSIDANGAN PENGGANTI
Andre Saputra