Rehabilitasi
Nomor Putusan: No. 81 Tahun 2023
Yusrijal Faini, Anggota KIP Kabupaten Bener Meriah
Tahun: 2023 · Tanggal (data DKPP): 03/08/2023 · Tanggal Putusan (dari dokumen): 24-07-2023
👁 30 dibaca
⇩ 7 diunduh
⇩ Unduh Putusan (PDF)
Ringkasan
Pokok AduanBahwa Para Pengadu Perakra Nomor 81-PKE-DKPP/V/2023 telah menyampaikan Pengaduan tertulis dan secara lisan dalam sidang Pemeriksaan Dugaan Pelanggaran Kode Etik Penyelenggara Pemilu pada tanggal 14 Juli 2023 dengan uraian sebagai berikut: 1. Berdasarkan pemberitaan media online pada tanggal 2 Februari 2023 di laman www.kabargayo.com dengan judul berita “Diduga Terima BPUM Anggota Komisioner KIP Bener Meriah Dilapor ke DKPP”, dilaman www.acehimage.com dengan judul berita “Terima Bantuan BPUM Oknum Komisioner KIP Bener Meriah Dilaporkan ke DKPP” dan dilaman www.ajnn.net dengan judul berita “Diduga Terima BPUM, Komisioner KIP Bener Meriah Dilaporkan ke DKPP”, telah dilakukan pengawasan dan investigasi untuk mengumpulkan keterangan, bukti dan fakta- fakta tentang kebenaran informasi dari pemberitaan tersebut; 2.
Pertimbangan PutusanMenimbang pengaduan Pengadu dalam Perkara Nomor 81-PKE-DKPP/V/2023 pada pokoknya mendalilkan Teradu diduga melanggar prinsip mandiri sebagai Penyelenggara Pemilu dikarenakan berdasarkan hasil pengawasan Para Pengadu, pada tahun 2021 Teradu diduga menerima dana Bantuan Produktif Usaha Mikro (BPUM) dari Pemerintah di Kabupaten Bener Meriah. Menimbang keterangan dan jawaban Teradu dalam Perkara Nomor 81-PKE- DKPP/V/2023 pada pokoknya menolak seluruh dalil aduan Para Pengadu.
Pasal DilanggarPasal 5 Peraturan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Nomor 10 Tahun 2022
Amar Putusan1. Menolak pengaduan Pengadu untuk seluruhnya; 2. Merehabilitasi nama baik Teradu Yusrijal Faini selaku Anggota KIP Kabupaten Bener Meriah sejak Putusan ini dibacakan; 3. Memerintahkan Komisi Pemilihan Umum untuk melaksanakan Putusan ini paling lama 7 (tujuh) hari sejak Putusan dibacakan; dan 4. Memerintahkan Badan Pengawas Pemilihan Umum untuk mengawasi pelaksanaan Putusan ini.
PEMBUKAAN
PUTUSAN
Nomor 81-PKE-DKPP/V/2023
DEWAN KEHORMATAN PENYELENGGARA PEMILU
REPUBLIK INDONESIA
DEMI KEADILAN DAN KEHORMATAN PENYELENGGARA PEMILU
Memeriksa dan memutus pada tingkat pertama dan terakhir Pengaduan Nomor 101-
P/L-DKPP/V/2023 yang diregistrasi dengan Perkara Nomor 81-PKE-DKPP/V/2023,
menjatuhkan Putusan atas dugaan pelanggaran Kode Etik Penyelenggara Pemilu yang
diajukan oleh:
I. IDENTITAS PENGADU
[1.1] Pengadu
1 Nama : Yusarin
Jabatan : Ketua Panwaslih Kabupaten Bener Meriah
Alamat : Jalan Pendopo Bupati, Kampung Reje Guru, Kec.
Bukit Kabupaten Bener Meriah
Selanjutnya disebut sebagai-----------------------------------------------Pengadu I;
2 Nama : Surahman
Jabatan : Anggota Panwaslih Kabupaten Bener Meriah
Alamat Jalan Pendopo Bupati, Kampung Reje Guru, Kec.
Bukit Kabupaten Bener Meriah
Selanjutnya disebut sebagai----------------------------------------------Pengadu II;
3 Nama : Ramdona
Jabatan : Anggota Panwaslih Kabupaten Bener Meriah
Alamat : Jalan Pendopo Bupati, Kampung Reje Guru, Kec.
Bukit Kabupaten Bener Meriah
Selanjutnya disebut sebagai---------------------------------------------Pengadu III;
Pengadu I s.d. Pengadu III Selanjutnya disebut sebagai-----------------------------
--------------------------------------------------------------------------Para Pengadu;
II. IDENTITAS TERADU
TERHADAP
[1.2] Teradu
Nama : Yusrijal Faini
Jabatan : Anggota Komisi Independen Pemilihan Kabupaten
Bener Meriah
Alamat : Jalan Bandara Rembele Kampung Bale Atu,Kecamatan
Bukit, Kabupaten Bener Meriah
Selanjutnya disebut sebagai--------------------------------------------------Teradu.
[1.3] membaca pengaduan Para Pengadu;
mendengar keterangan Para Pengadu;
mendengar jawaban Teradu;
mendengar keterangan Pihak terkait;
mendengar keterangan Saksi; dan
memeriksa dan mempelajari dengan seksama semua dokumen dan segala
bukti yang diajukan Para Pengadu dan Teradu.
III. DUDUK PERKARA
[2.1] POKOK PENGADUAN PENGADU
Bahwa Para Pengadu Perakra Nomor 81-PKE-DKPP/V/2023 telah menyampaikan
Pengaduan tertulis dan secara lisan dalam sidang Pemeriksaan Dugaan Pelanggaran
Kode Etik Penyelenggara Pemilu pada tanggal 14 Juli 2023 dengan uraian sebagai
berikut:
1. Berdasarkan pemberitaan media online pada tanggal 2 Februari 2023 di laman
www.kabargayo.com dengan judul berita “Diduga Terima BPUM Anggota
Komisioner KIP Bener Meriah Dilapor ke DKPP”, dilaman www.acehimage.com
dengan judul berita “Terima Bantuan BPUM Oknum Komisioner KIP Bener Meriah
Dilaporkan ke DKPP” dan dilaman www.ajnn.net dengan judul berita “Diduga
Terima BPUM, Komisioner KIP Bener Meriah Dilaporkan ke DKPP”, telah dilakukan
pengawasan dan investigasi untuk mengumpulkan keterangan, bukti dan fakta-
fakta tentang kebenaran informasi dari pemberitaan tersebut;
2. Berdasarkan hasil pengawasan dan investigasi ke Kantor Dinas Koperasi dan
Usaha Kecil Menengah Kabupaten Bener Meriah pada hari Selasa tanggal 7
Februari 2023 di peroleh informasi dari Kepala Dinas yakni Fitra Gunawan,AP
yang menurut keterangan dari Iwan Fitra (Kabid UMKM) bahwa Teradu terdata
sebagai penerima bantuan BPUM (Bantuan Produktif Usaha Mikro) Tahun 2021 di
Desa Jamur Ujung Kecamatan Wih Pesam Kabupaten Bener Meriah dan Data
Penerima bantuan BPUM Kabupaten Bener Meriah Tahun 2021 diberikan dalam
bentuk data excel. Selanjutnya berdasarkan hasil pengawasan dan investigasi ke
Kantor Desa Jamur Ujung Kecamatan Wih Pesam Kabupaten Bener Meriah pada
tanggal 8 Februari 2023 di peroleh informasi dari Kepala Desa melalui Evi
Nopitasari (Kepala Urusan Tata Usaha) bahwa Teradu termasuk penerima bantuan
BPUM Tahun 2021 di Desa Jamur Ujung Kecamatan Wih Pesam Kabupaten Bener
Meriah;
3. Berdasarkan hasil klarifikasi Evi Nopitasari desa Jamur Ujung pada hari Jum’at
tanggal 10 Februari 2023 bertempat di Kantor Panwalsih Kabupten Bener Meriah
bahwa Teradu termasuk penerima bantuan BPUM Tahun 2021 di Desa Jamur
Ujung Kecamatan Wih Pesam Kabupaten Bener Meriah. Selanjutnya berdasarkan
hasil klarifikasi Iwan Fitra Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Bener Meriah
pada hari Jum’at tanggal 10 Februari 2023 bertempat di Kantor Panwalsih
Kabupten Bener Meriah bahwa Teradu terdata sebagai penerima bantuan BPUM
Tahun 2021 di Desa Jamur Ujung Kecamatan Wih Pesam Kabupaten Bener
Meriah;
4. Bahwa perbuatan Teradu selaku Anggota Komisi Independen Pemilihan (KIP)
Kabupaten Bener Meriah sebagai salah satu penerima bantuan BPUM Tahun 2021
di Desa Jamur Ujung Kecamatan Wih Pesam Kabupaten Bener Meriah patut
diduga adalah merupakan Pelanggaran Kode Etik Penyelenggara Pemilu.
[2.2] BUKTI PENGADU
Bahwa untuk menguatkan dalil aduanya pada Perkara Nomor 81-PKE-DKPP/V/2023,
Pengadu mengajukan bukti-bukti yang diberi tanda P-1 s.d. P-17 sebagai berikut:
P-1 Hasil print-out berita media online di laman www.kabargayo.com dengan
judul berita “Diduga Terima BPUM Anggota Komisioner KIP Bener Meriah
Dilapor ke DKPP” tertanggal 2 Februari 2023.
P-2 Hasil print-out berita media online di laman www.acehimage.com dengan
judulb erita “ Terima Bantuan BPUM Oknum Komisioner KIP Bener Meriah
Dilaporkan ke DKPP' tertanggal 2 Februari 2023.
P-3 Hasil print-out berita media online di laman www.ajnn.net dengan judul
berita “Diduga Terima BPUM, Komisioner KIP Bener Meriah Dilaporkan ke
DKPP” tertanggal 2 Februari 2023.
P-4 Berita Acara Rapat Pleno Nomor: 08/BA.PLENO/K.AC-12/02/2023 tentang
Pemberitaan di laman media online terkait dugaan Anggota KIP Bener
Meriah Terima Bantuan BPUM Tahun 2021 tanggal 06 Februari 2023.
P-5 Surat Tugas Pengawasan Nomor: 36/PM.00.02/K.AC-12/02/2023 tanggal
07 Februari 2023.
P-6 Surat Tugas Pengawasan Nomor: 37/PM.00.02/K.AC-12/02/2023 tanggal
08 Februari 2023.
P-7 Hasil print-out Data Penerima bantuan BPUM Kabupaten Bener Meriah
Tahun 2021 Desa Jamur Ujung Kecamatan Wih Pesam Kabupaten Bener
Meriah dari Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Kabupaten Bener
Meriah.
P-8 Surat Keputusan Ketua Panwaslih Kabupaten Bener Meriah Nomor:
05/HK.01.01/K.AC-12/02/2023 tentang Pembentukan Tim Klarifikasi
Dugaan Pelanggaran Pemilihan Umum Tahun 2024 tanggal 08 Februari
2023.
P-9 Berita Acara Klarifikasi atas nama Evi Nopita Sari tertanggal 10 Februari
2023.
P-10 Berita Acara Klarifikasi atas nama Iwan Fitra tertanggal 10 Februari 2023.
P-11 Berita Acara Klarifikasi atas nama Riga Wantona tertanggal 13 Februari
2023.
P-12 Berita Acara Klarifikasi atas nama Yusrijal Faint, S.H tertanggal 13
Februari 2023.
P-13 Laporan Hasil Pengawasan Nomor: 27/LHP/PM.01.00/02/2023 tertanggal
08 Februari 2023.
P-14 Berita Acara Rapat Pleno Nomor: 010/BA.PLEN0/K.AC-12/02/2023
tentang Hasil Pengawasan dan Investigasi sebagaimana tertuang dalam
Laporan Hasil Pengawasan tanggal 08 Februari 2023.
P-15 Kajian Dugaan Pelanggaran Nomor: 001/Reg/TM/PL/Kab/01.17/11/2023
Tanggal 24 Februari 2023.
P-16 Berita Acara Rapat Pleno Nomor: 015/BA.PLENO/K.AC-12/02/2023
tentang Kajian Dugaan Pelanggaran Nomor:
001/Reg/TM/PL/Kab/01.17/11/2023 tanggal 24 Februari 2023.
P-17 Pemberitahuan status Temuan
Nomor: 001/Reg/TM/PL/Kab/01.17/II/2023 tanggal 27 Februari 2023.
[2.3] SAKSI PENGADU
Bahwa untuk membuktikan dalil-dalilnya pada Perkara Nomor 81-PKE-
DKPP/V/2023, Pengadu mengajukan saksi yakni Riga Wantona selaku masyarakat
yang melaporkan adanya dugaan pelanggaran kode etik penyelenggara Pemilu ke
Panwaslih Kanupaten Bener Meriah. Saksi memberikatan keterangan secara lisan
pada Sidang Pemeriksaan Dugaan Pelanggaran Kode Etik tanggal 14 Juli 2023
sebagai berikut:
1. Bahwa Saksi tidak mengetahui program Bantuan Produktif Usaha Mikro (BPUM)
yang dilakukan oleh Pemerintah;
2. Bahwa pada tahun 2021 Saksi mendapatkan data dari website dari Kementrian
Koperasi yang menjelaksan bahwa Teradu menerima bantuan BPUM;
3. Bahwa berdasarkan keterangan Saksi data tersebut tidak dapat diakses
sepenuhnya hingga pada tahun 2022 baru dapat diakses dan diterima oleh Saksi.
Kemudian Saksi menanyakan apakah Pejabat atau Anggota KIP dapat menerima
bantuan BPUM atau tidak;
4. Bahwa menurut Saksi Pejabat atau Anggota KIP tidak patut menerima bantuan
dari Pemerintah;
5. Bahwa dikarenakan belum ada hal yang dapat menerangkan hal tersebut, Saksi
menyapaikan ke media terkait informasi yang diketahui Saksi.
[2.4] PENJELASAN DAN POKOK JAWABAN TERADU
Bahwa Teradu telah menyampaikan jawaban tertulis terhadap Perkara Nomor
81-PKE-DKPP/V/2023 dan dibacakan dimuka sidang pemeriksaan dugaan
pelanggaran Kode Etik Penyelenggara Pemilu pada tanggal 14 Juli 2023, sebagai
berikut:
A. Dalam Eksepsi
1. Eksepsi Tentang Kronologi kejadian yang diadukan oleh para Pengadu tidak
memenuhi Syarat Administratif.
1.1. bahwa setelah membaca dan mencermati kronologi kejadian yang diadukan
pengadu dalam surat pengaduannya, masih banyak kejanggalan terhadap
dugaan pelanggaran kode etik yang dilaporkan Pengadu terhadap Teradu
sehingga pengaduan tersebut menjadi kabur dan tidak jelas serta tidak
memenuhi syarat administratif dalam mengajukan aduan kepada DKPP.
1.2. Bahwa rangkaian kejadian yang termuat dalam laporan pengaduan nomor
101-P/L-DKPP/V/2023 belum memenuhi syarat formil dan/atau administratif
sebagai sebuah pengaduan dikarenakan laporan pengaduan tersebut tidak
menguraikan dengan jelas dan secara rinci, baik mengenai tindakan maupun
sikap serta Cara Perbuatan itu dilakukan Teradu dalam dugaan pelanggaran
Kode Etik yang laporkan Pengadu terhadap Teradu sehingga hal tersebut
bertentangan dengan Peraturan Dewan Kehormatan Penyelenggra Pemilu
Nomor 3 Tahun 2017 pasal 5, pasal 6, dan pasal 7 yang secara garis besar
syarat-syarat dan formulasi Pengaduan meliputi:
- Waktu perbuatan dilakukan;
- Tempat perbuatan dilakukan;
- Perbuatan yang dilakukan;
- Cara perbuatan dilakukan;
Bahwa sesuai dengan ketentuan yang telah diuraikan diatas dikaitkan
dengan kronologi pengaduan yang dilaporkan pengadu tersebut jelas terlihat
bahwa pengaduan tersebut belum memenuhi syarat administratif sebagai
sebuah pengaduan, sehingga laporan pengaduan nomor 101-P/L-
DKPP/V/2023 dalam perkara Aquo haruslah dinyatakan tidak dapat diterima;
1.3. Bahwa Pengaduan pengadu bertentangan dengan Peraturan Dewan
Kehormatan Penyelenggra Pemilu Nomor 3 Tahun 2017 Tentang Pedoman
Beracara Kode Etik Penyelenggara Pemilihan Umum pasal 5, ayat 4.
1.4. Bahwa sesuai dengan ketentuan Peraturan Dewan Kehormatan Penyelenggara
Pemilu yang telah diuraikan diatas disinkronkan dengan kronologi pengaduan
yang dilaporkan pengadu jelas terlihat bahwa pengaduan tersebut patut di
duga belum memenuhi syarat administratif sebagai sebuah pengaduan,
sehingga laporan pengaduan nomor 101-P/L-DKPP/V/2023 dalam perkara
aquo haruslah dinyatakan tidak dapat diterima.
2. Eksepsi tentang Kurang Pihak Terkait
2.1. Bahwa laporan Pengaduan Pengadu pada Dewan Kehormatan Penyelenggara
Pemilu dengan Nomor 101-P/L-DKPP/V/2023 dan telah diregistrasi dengan
perkara Nomor 81-PKE-DKPP/V/2023, dengan dugaan bahwa Teradu
menerima Dana Bantuan bagi Pelaku Usaha Mikro (BPUM) berdasarakan hasil
investigasi Pengadu kepada Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Mengengah
Kabupaten Bener Meriah merupakan Pengaduan Kurang Pihak (Plurium Litis
Consortium).
2.2. Bahwa berdasarkan Peraturan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan
Menengah No. 2 tahun 2021 tentang pedoman umum penyaluran bantuan
pemerintah bagi pelaku usaha mikro pada prinsipnya menyatakan bahwa
Dinas yang membidangi urusan Koperasi dan usaha mikro kecil dan
menengah pada tingkat Kabupaten/Kota hanyalah sebgai Pengusul. Kemudian
Dinas atau badan yang membidangi Koperasi dan usaha kecil dan menengah
pada tingkat Provinsi bertugas mengkoordinasikan usulan data calon
penerima bantuan BPUM tersebut, untuk selanjutnya Kementerian koperasi
dan usaha kecil menengah dalam hal ini deputi penanggung jawab program
BPUM yang menetapkan data usulan yang dapat menerima bantuan tersebut.
Dengan tidak mengajukan para pihak yang terkait oleh pengadu, bertentangan
dengan Peraturan Dewan Kehormatan Penyelenggra Pemilu Nomor 3 Tahun
2017 Tentang Pedoman Beracara Kode Etik Penyelenggara Pemilihan Umum
pasal 7, ayat 2 huruf e.
2.3. Bahwa berdasarkan kaidah hukum pada umumnya ketika suatu laporan
pengaduan melibatkan instansi pemerintah yang memiliki instansi atasan,
maka pengaduan yang dimaksud tersebut harus ditujukan pula kepada
instansi yang secara hierarki berada di atas nya sebagai pihak terkait;
2.4. Bahwa dengan tidak ditariknya instansi atasan dalam hal ini Dinas Koperasi
dan usaha kecil mengan Provinsi Aceh dan Kementrian Koperasi dan Usaha
Kecil Menengah cq. Deputi penanggung jawab program BPUM sebagai pihak
terkait, maka pengaduan yang diadukan pengadu tersebut secara serta merta
tidak memenuhi syarat formil dan atau Administratif sebagai sebuah Laporan,
oleh karena itu Pengaduan dengan Nomor 101-P/L-DKPP/V/2023
dikualifikasi mengandung Cacat Formil sehingga sangatlah beralasan jika
Majelis yang memeriksa perkara pelanggaran kode etik ini, mengadili dan
memutuskan perkara ini untuk menyatakan Pengaduan tidak dapat diterima
(Niet Ontvankelijk Verklaard) karena kurang para pihak Terkait.
B. Dalam Pokok Perkara
1. Bahwa dahulu sebelum saya menjadi bagian dari penyelenggara Pemilu sebagai
anggota Komisioner KIP Kabupaten Bener Meriah, saya bekerja sebagai
Agen/Sales penjualan pulsa di seputaran Kabupaten Bener Meriah dan Aceh
Tengah. Kemudian istri saya yang bekerja sebagai ibu rumah tangga meminta
untuk dibukakan usaha dagang penjualan pulsa dan Agen pengiriman uang
BRI Link di Rumah Toko tempat tinggal kami berada.
2. Bahwa sejak dari awal dibukanya usaha dagang penjualan pulsa dan Agen
pengiriman uang BRI Link tersebut dikelola oleh istri saya, dan untuk segala
proses izin usaha maupun surat keterangan usaha tersebut menggunakan
nama saya sebagai kepala rumah tangga dan penanggung jawab dalam usaha
tersebut;
3. Bahwa pada tahun 2020 yang lalu terjadi bencana Covid -19 yang melanda
seluruh dunia dan berdampak juga kepada usaha dagang yang dikelola istri
saya sebagai penjual pulsa dan jasa pengiriman uang BRI Link. Kemudian dari
pihak pemerintah memiliki program bantuan sebagai upaya membantu dan
menjaga keberlangsungan usaha pelaku usaha kecil yang terkena dampak
pandemi Covid – 19 dengan tujuan agar dapat menyelamatkan usaha dari para
pelaku usaha kecil menengah dan menyelamatkan ekonomi nasional pada
umumnya;
4. Bahwa program pemerintah tersebut dilaksanakan berdasarkan Peraturan
Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Nomor 2 Tahun 2021
Tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan
Menengah Nomor 6 Tahun 2020 tentang Pedoman umum penyaluran bantuan
Pemerintah bagi pelaku usaha Mikro untuk mendukung pemulihan ekonomi
nasional dalam rangka menghadapi ancaman yang membahayakan
perekonomian nasional serta penyelamatan ekonomi nasional pada masa
pandemi corona virus disease 2019 (Covid-19), yang mana dalam pasal 1 ayat
(2) dan pasal 3 ayat (1) dan (2) menyebutkan bahwa Bantuan bagi pelaku
usaha Mikro yang selanjutnya disingkat BPUM adalah Bantuan Pemerintah
dalam bentuk uang yang diberikan kepada pelaku usaha mikro yang
bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara sejumlah Rp.
1.200.000 (satu juta dua ratus ribu rupiah) secara sekaligus untuk pelaku
usaha Mikro yang memenuhi kriteria tertentu yang disalurkan langsung ke
rekening Penerima BPUM;
5. Bahwa untuk dapat menerima bantuan pemerintah tersebut harus memenuhi
kriteria dan persyaratan serta diusulan oleh Dinas terkait sebagaimana
tercantum dalam Peraturan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah
Nomor 2 Tahun 2021 pasal 5 dan 6 diataranya persyaratan tersebut adalah
Warga Negara Indonesia, memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) Elektronik,
memiliki Usaha Mikro yang dibuktikan dengan surat usulan calon penerima
BPUM dari pengusul BPUM beserta lampirannya yang merupakan satu
kesatuan dan bukan Aparatur Sipil Negara, anggota Tentara Nasional
Indonesia, anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia, pegawai BUMN, atau
pegawai BUMD serta calon penerima BPUM tersebut disulkan oleh Dinas atau
Badan yang membidangi koperasi dan usaha Mikro, Kecil, dan menengah
Kabupaten/Kota;
6. Bahwa kemudian pemerintahan di tingkat kampung Jamur Ujung, dalam hal
ini kepala dusun kampung Jamur Ujung, kecamatan wih pesam Kabupaten
Bener Meriah telah mendata masyarakat yang memiliki usaha di kampung
tersebut, salah satunya usaha yg dikelola oleh istri saya dan oleh pihak kepala
dusun mengusulkan untuk dapat menerima bantuan usaha untuk pelaku
usaha yang terkena dampak covid -19 kepada Dinas Koperasi dan Usaha Kecil
Menengah Kabupaten Bener Meriah karena memenuhi kriteria dan persyaratan
yang telah ditetapkan Peraturan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan
Menengah Nomor 2 Tahun 2021 tersebut;
7. Bahwa pada tanggal 15 Juni 2021 saya menerima telpon dari Pihak Bank Aceh
Unit Simpang Balik Kecamatan Wih Pesam untuk dapat hadir ke Bank tersebut
guna mengambil buku tabungan dan uang bantuan pemerintah untuk pelaku
usaha yang terkena dampak covid -19, kemudian dalam percakapan telepon
tersebut saya menanyakan kepada pihak Bank apakah dapat di wakili oleh istri
untuk menghadiri pertemuan di Bank tersebut. Pihak Bank menjawab tidak
bisa diwakili dikarenakan data izin usaha tertera atas nama saya.
8. Bahwa pada tanggal 17 Juni 2021, saya menelpon Bapak Ir. Tarmizi yang saat
itu merupakan Anggota Komisioner KIP Aceh bidang Hukum dan Pengawasan
sekaligus merupakan Tim Pemeriksa Daerah (TPD) dari unsur KPU/KIP Aceh
guna menyampaikan perihal dana Bantuan Covid-19 dari pemerintah bagi
pelaku usaha kecil yang salah satunya nama saya di tetapkan sebagai
penerima bantuan tersebut. Kemudian Bapak Ir. Tarmizi menjawab bahwa
menerima bantuan tersebut bukanlah merupakan pelanggaran, karena usaha
dagang yang dimiliki tersebut diusulkan oleh pemerintah kampung, bukan
mengusulkan sendiri dan disamping itu juga Bantuan bagi pelaku usaha ini
diberikan oleh pemerintah dari anggaran APBN dikarenakan adanya musibah
bencana Covid-19 yang melanda dan berdampak diseluruh dunia dan
pemerintah dalam hal ini membantu menyelamatkan usaha bagi pelaku usaha
kecil yang terkena dampak tersebut dan hal ini tidak ada berkaitan dengan
pemilu dan penyelenggara pemilu serta bantuan tersebut diterima berdasarkan
hasil usulan Pemerintah Kampung yang mendata Usaha saya tersebut,
kemudian ditetapkan oleh Kementerian Koperasi Usaha Kecil Menengah dalam
hal ini deputi Penanggung jawab Program Bantuan BPUM setelah di verifikasi
dan divalidasi dan tanpa ada terlibat pengaruh atau kewenangan saya sebagai
Penyelenggara Pemilu;
9. Bahwa setelah saya mendapatkan jawaban dari Bapak Ir. Tarmizi dan dari
instansi-instansi terkait dengan bantuan tersebut, pada tanggal 22 Juni 2021
saya mendatangi pihak Bank Aceh unit Simpang Balik Kecamatan wih pesam
untuk memastikan bahwa benar nama saya ditetapkan sebagai penerima
bantuan pemerintah sebagai pelaku usaha yang terkena dampak Covid-19;
10. Bahwa saya sebelum menerima bantuan ini, telah berkoordinasi terlabih
dahulu dengan pihak-pihak yang berkaitan dengan urusan bantuan covid-19
bagi pelaku usaha maupun dengan pihak-pihak yang berkaitan dengan urusan
penyelenggara pemilu, sehingga hal ini tidak bertentangan dengan asas
kepatutan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
[2.5] KESIMPULAN TERADU
Berdasarkan fakta-fakta yang terungkap dalam sidang pemeriksaan dugaan
pelanggaran Kode Etik Penyelenggara Pemilu tanggal 14 Juli 2023, Teradu
menyampaikan kesimpulan yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari jawaban
Para Pengadu yang pada pokoknya sebagai berikut:
1. Bahwa benar usaha dagang Penjualan Pulsa dan Jasa Pengiriman uang BRI Link
adalah merupakan usaha yang dimiliki dan dikelola oleh istri Teradu sampai
dengan saat ini, meskipun izin atas usaha tersebut tertera atas nama Teradu
sebagai kepala Rumah tangga;
2. Bahwa usaha dagang Penjualan Pulsa dan Jasa Pengiriman uang BRI Link yang
dimiliki dan dikelola oleh istri Teradu benar terkena Dampak Pandemi Covid-19;
3. Bahwa benar usaha dagang Penjualan Pulsa dan Jasa Pengiriman uang BRI Link
yang dimiliki dan dikelola oleh istri Teradu menerima Bantuan BPUM berdasarkan
usulan dari Pihak Pemerintah Kampung Jamur Ujung Kecamatan Wih Pesam
Kabupaten Bener Meriah dikarenakan Usaha Dagang yang dimilki istri Teradu
Tersebut memenuhi kriteria dan persyaratan sesuai dengan Peraturan Menteri
Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Nomor 2 Tahun 2021 dan layak
menerima Bantuan;
4. Bahwa Teradu sebagai Penyelenggara Pemilu telah berkoordinasi terlebih dahulu
dengan Anggota Komisioner KIP Aceh bidang Hukum dan Pengawasan sekaligus
merupakan Tim Pemeriksa Daerah (TPD) dari unsur KPU/KIP Aceh guna
menyampaikan perihal dana Bantuan Covid-19 dari pemerintah bagi pelaku usaha
kecil yang salah satunya Usaha dagang yang dikelola oleh Istri Teradu ditetapkan
sebagai penerima bantuan pemerintah, Kemudian Bapak Ir. Tarmizi menjawab
bahwa menerima bantuan tersebut bukanlah merupakan pelanggaran Kode Etik
Teradu sebagai Penyelenggara pemilu, sehingga hal ini tidak bertentangan dengan
asas kepatutan dan peraturan perudangn-undangan yang berlaku;
5. Bahwa setelah kami berkoordinasi terlebih dahulu dengan pihak-pihak yang
berkaitan dengan urusan bantuan covid-19 bagi pelaku usaha maupun dengan
pihak-pihak yang berkaitan dengan urusan penyelenggara pemilu, maka dapat
kami simpulkan bahwa Teradu sebagai penyelenggara pemilu yang telah menjabat
dua (2) Periode dan tetap bekerja penuh waktu serta berprilaku baik sesuai
dengan asas penyelenggara pemilu, tidak terbukti melanggar pasal 8 huruf (i)
Peraturan Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilihan Pemilu nomor 2 Tahun
2017 Tentang Kode Etik Pedoman Perilaku Penyelenggara Pemilu sebagaimana
yang di laporkan Pengadu dalam aduannya.
[2.6] PETTITUM TERADU
Bahwa berdasarkan penjelasan dan pokok jawaban Teradu pada Perkara Nomor 81-
PKE-DKPP/V/2023, maka Teradu memohon kepada Ketua dan Anggota Majelis
Sidang Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu Republik Indonesia agar
menjatuhkan Putusan yang amarnya berbunyi sebagai berikut:
1. Menolak Pengaduan Pengadu untuk seluruhnya;
2. Menyatakan Teradu tidak terbukti melakukan pelanggaran Kode Etik
Penyelenggara Pemilu;
3. Merehabilitasi nama baik Teradu dalam kedudukannya sebagai penyelenggara
pemilu;
4. 4. Apabila Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilihan Umum berpendapat lain,
mohon memberikan putusan yang seadil-adilnya (ex aequo et bono).
[2.7] ALAT BUKTI
Bahwa untuk menguatkan dalil aduanya pada Perkara Nomor 81-PKE-DKPP/V/2023,
Teradu mengajukan bukti-bukti yang diberi tanda T-1 s.d. T-13 sebagai berikut:
T-1 Dokumen foto copy KTP Teradu dengan NIK 1117042502840001;
Dokumen foto copy Kartu Keluarga (KK) Nomor 1117041101110003 yang
T-2 diterbitkan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten
Bener Meriah;
Dokumen Asli Surat Keterangan Usaha Nomor 96/SKU/JU/WP/2020
T-3
tanggal 01 Februari 2020;
Dokumen Asli Surat Data Pedagang (UMKM) Dampak Covid-19 Kampung
T-4 Jamur Ujung Kecamatan Wih Pesam Kabupaten Bener Meriah Tahun
2020;
Dokumen foto copy Buku Rekening Bank Aceh Cabang Pembantu
T-5
Simpak Balik No. 1117042502840001 tanggal 22 Juni 2021;
Dokumen foto copy Peraturan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan
T-6
Menengah Nomor 2 Tahun 2021;
Dokumen foto copy foto Usaha Teradu yang dikelola oleh istri dirumah
T-7 kediaman Teradu Kampung Jamur Ujung, Kecamtan Wih Pesam,
Kabupaten Bener Meriah;
[2.8] SAKSI TERADU
Bahwa untuk menguatkan jawabannya pada Perkara Nomor 81-PKE-DKPP/V/2023,
Teradu mengajukan saksi yakni Irpan selaku Kepala Kampung Jamur Ujung, Saksi
Musliadi selaku Kepala Dusun Mekar Utama dan Saksi Ahmad Kafrawi selaku Imam
Kampung Jamur Ujung. Saksi memberikatan keterangan secara lisan pada Sidang
Pemeriksaan Dugaan Pelanggaran Kode Etik tanggal 14 Juli 2023 sebagai berikut:
Irpan
- Bahwa pada tahun 2020, Saksi diminta oleh Koperasi Kecamatan untuk
melakukan Pendataan terhadap masyarakat yang memiliki Industri Kecil
Menengah(IKM) dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang ada di desa
Jamur Ujung;
- Bahwa Saksi mengetahui Teradu memiliki usaha jual beli pulsa sejak tahun 2011;
- Bahwa yang mengelola usaha tersebut adalah istri Teradu;
- Bahwa Teradu memiliki usaha jual beli pulsa sebelum menjadi penyelenggara
Pemilu.
Musliadi
- Bahwa Saksi melakukan pendataan terkait seluruh warga yang memiliki usaha di
dusun jamur ujung atas perintah kepala kampung;
- Bahwa usaha Teradu memiliki izin usaha yang diterbitkan dari kecamatan sejak
tahun 2020.
Ahmad Kafrawi
- Bahwa Teradu memiliki usaha jual beli pulsa sejak tahun 2009 sebagai agen pulsa
jalanan, kemudian setelah membeli rumah di desa jamur ujung, pada tahun 2011
Teradu membuka kios usaha jual beli pulsa di rumahnya.
[2.9] PIHAK TERKAIT
Bahwa DKPP memanggil Ketua dan Angota Panwasli Kabupaten Bener Meriah serta
Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menegah Kabupaten Bener Meriah sebagai
Pihak Terkait yang pada sidang Pemeriksaan Dugaan Pelanggaran Kode Etik tanggal
14 Juli 2023. Bahwa Pihak Terkait menerangkan hal-hal sebagai berikut:
[2.9.1] Ketua dan Angota Panwasli Kabupaten Bener Meriah
1. Bahwa Pihak Terkait menjelaskan sudah berkoordinasi dengan Anggota
Komisioner KIP Aceh Bidang Hukum dan Pengawasan perihal apakah
penyelenggara Pemilu dapat menerima bantuan BPUM dari Pemerintah. Hasilnya
bahwa hal tersebut bukanlah merupakan pelanggaran dikarenakan bantuan
tersebut diberikan langsung dari pemerintah dalam membantu pelaku usaha kecil
yang terkena dampak Covid-19;
2. Bahwa Teradu tidak memiliki masalah dalam pekerjaannya sebagai Penyelenggara
Pemilu meskipun memiliki usaha jual beli pulsa dan jasa pengiriman uang BRI
Link.
[2.9.2] Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menegah Kabupaten Bener Meriah
1. Bahwa Pihak Terkait melakukan kegiatan sesuai dengan Peraturan Menteri
Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Nomor 2 Tahun 2021 Tentang Perubahan
atas Peraturan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Nomor 6 Tahun
2020 tentang Pedoman umum penyaluran bantuan Pemerintah bagi pelaku usaha
Mikro untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional dalam rangka menghadapi
ancaman yang membahayakan perekonomian nasional serta penyelamatan
ekonomi nasional pada masa pandemi corona virus disease 2019 (Covid-19);
2. Bahwa Pihak terkait diperintahkan untuk mendata dan memberikan usulan
terkait siapa saja masyarakat yang memiliki Usaha Menengah Kecil Mikro diluar
dari Pasal 5 Peraturan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Nomor 2
Tahun 2021, yang terdampak covid-19 untuk diberikan bantuan BPUM dari
Pemerintah;
3. Bahwa Pihak Terkait menjelaskan bahwa dana BPUM tidak dapat dikembalikan
dikarenakan bukan dari dana desa melainkan langsung dari Pemerintah Pusat;
IV. KEWENANGAN DKPP DAN KEDUDUKAN HUKUM
[3.1] Menimbang bahwa maksud dan tujuan pengaduan Pengadu adalah terkait
dengan dugaan Pelanggaran Kode Etik dan Pedoman Perilaku Penyelenggara Pemilu
yang dilakukan oleh Para Teradu;
[3.2] Menimbang bahwa sebelum mempertimbangkan pokok pengaduan Pengadu,
Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (selanjutnya disebut sebagai DKPP) terlebih
dahulu akan menguraikan kewenangannya dan pihak-pihak yang memiliki
kedudukan hukum untuk mengajukan pengaduan sebagaimana berikut:
Kewenangan DKPP
[3.3] Menimbang bahwa DKPP dibentuk untuk menegakkan Kode Etik Penyelenggara
Pemilu. Hal demikian sesuai dengan ketentuan Pasal 155 ayat (2) Undang-Undang
Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum yang menyebutkan:
“DKPP dibentuk untuk memeriksa dan memutuskan aduan dan/atau laporan
adanya dugaan pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh anggota KPU,
anggota KPU Provinsi, anggota KPU Kabupaten/Kota, anggota Bawaslu,
anggota Bawaslu Provinsi, dan anggota Bawaslu Kabupaten/Kota”.
Selanjutnya ketentuan Pasal 159 ayat (2) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017
tentang Pemilihan Umum yang mengatur wewenang DKPP untuk:
a. Memanggil Penyelenggara Pemilu yang diduga melakukan pelanggaran kode
etik untuk memberikan penjelasan dan pembelaan;
b. Memanggil Pelapor, saksi, dan/atau pihak-pihak lain yang terkait untuk
dimintai keterangan, termasuk untuk dimintai dokumen atau bukti lain;
c. Memberikan sanksi kepada Penyelenggara Pemilu yang terbukti melanggar
kode etik; dan
d. Memutus Pelanggaran Kode Etik
Ketentuan di atas, diatur lebih lanjut dalam Pasal 3 ayat (2) Peraturan DKPP Nomor 3
Tahun 2017 tentang Pedoman Beracara Kode Etik Penyelenggara Pemilu sebagaimana
telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan DKPP Nomor 1 Tahun 2022
tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan DKPP Nomor 3 Tahun 2017 tentang
Pedoman Beracara Kode Etik Penyelenggara Pemilu yang menyebutkan bahwa
penegakan kode etik dilaksanakan oleh DKPP.
[3.4] Menimbang bahwa pengaduan Pengadu terkait dengan dugaan pelanggaran
Kode Etik dan Pedoman Perilaku Penyelenggara Pemilu yang dilakukan oleh para
Teradu, maka DKPP berwenang untuk memutus pengaduan a quo;
Kedudukan Hukum
[3.5] Menimbang bahwa berdasarkan Pasal 458 ayat (1) Undang-Undang Nomor 7
Tahun 2017 juncto Pasal 4 ayat (1) Peraturan DKPP Nomor 3 Tahun 2017 tentang
Pedoman Beracara Kode Etik Penyelenggara Pemilu sebagaimana telah diubah dengan
Peraturan DKPP Nomor 1 Tahun 2022 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan
DKPP Nomor 3 Tahun 2017 tentang Pedoman Beracara Kode Etik Penyelenggara
Pemilu, pengaduan tentang dugaan adanya pelanggaran Kode Etik Penyelenggara
Pemilu diajukan secara tertulis oleh Penyelenggara Pemilu, Peserta Pemilu, tim
kampanye, masyarakat, dan/atau pemilih dilengkapi dengan identitas Pengadu
kepada DKPP.
Selanjutnya ketentuan di atas diatur lebih lanjut dalam Pasal 4 ayat (2) Peraturan
DKPP Nomor 3 Tahun 2017 tentang Pedoman Beracara Kode Etik Penyelenggara
Pemilu sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan DKPP
Nomor 1 Tahun 2022 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan DKPP Nomor 3 Tahun
2017 tentang Pedoman Beracara Kode Etik Penyelenggara Pemilu sebagai berikut:
“Pengaduan dan/atau laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan
oleh:
a. Penyelenggara Pemilu;
b. Peserta Pemilu;
c. Tim Kampanye;
d. Masyarakat; dan/atau
e. Pemilih”.
[3.6] Menimbang bahwa Pengadu adalah peserta Pemilu sebagaimana diatur dalam
Pasal 4 ayat (2) huruf b Peraturan DKPP Nomor 3 Tahun 2017 tentang Pedoman
Beracara Kode Etik Penyelenggara Pemilu sebagaimana telah diubah dengan
Peraturan DKPP Nomor 1 Tahun 2022 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan
DKPP Nomor 3 Tahun 2017 tentang Pedoman Beracara Kode Etik Penyelenggara
Pemilu, dengan demikian Pengadu memiliki kedudukan hukum (legal standing) untuk
mengajukan pengaduan a quo;
[3.7] Menimbang bahwa DKPP berwenang untuk mengadili pengaduan a quo,
Pengadu memiliki kedudukan hukum (legal standing) untuk mengajukan pengaduan
a quo, maka selanjutnya DKPP mempertimbangkan pokok pengaduan.
V. PERTIMBANGAN PUTUSAN
[4.1] Menimbang pengaduan Pengadu dalam Perkara Nomor 81-PKE-DKPP/V/2023
pada pokoknya mendalilkan Teradu diduga melanggar prinsip mandiri sebagai
Penyelenggara Pemilu dikarenakan berdasarkan hasil pengawasan Para Pengadu,
pada tahun 2021 Teradu diduga menerima dana Bantuan Produktif Usaha Mikro
(BPUM) dari Pemerintah di Kabupaten Bener Meriah.
[4.2] Menimbang keterangan dan jawaban Teradu dalam Perkara Nomor 81-PKE-
DKPP/V/2023 pada pokoknya menolak seluruh dalil aduan Para Pengadu. Teradu
menjelaskan bahwa pada tahun 2020 terjadi bencana pandemi Covid-19 yang
melanda seluruh dunia. Dikarenakan hal tersebut pemerintah membuat program
bantuan sebagai upaya membantu dan menjaga keberlangsungan usaha pelaku
usaha kecil yang terkena dampak pandemi Covid–19 dengan tujuan untuk
menyelamatkan usaha dari para pelaku usaha kecil menengah dan menyelamatkan
ekonomi nasional pada umumnya. Program tersebut dituangkan dalam Peraturan
Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Nomor 2 Tahun 2021 Tentang
Perubahan atas Peraturan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Nomor 6
Tahun 2020 tentang Pedoman Umum Penyaluran Bantuan Pemerintah bagi Pelaku
Usaha Mikro Untuk Mendukung Pemulihan Ekonomi Nasional Dalam Rangka
Menghadapi Ancaman Yang Membahayakan Perekonomian Nasional Serta
Penyelamatan Ekonomi Nasional pada masa Pandemi Covid-19. Berdasarkan hal
tersebut Kepala Dusun Kampung Jamur Ujung, Kecamatan Wih Pesam Kabupaten
Bener Meriah melakukan pendataan terhadap masyarakat yang memiliki Usaha
Menengah Kecil Mikro (UMKM) dan disesuaikan dengan Peraturan Menteri Koperasi
dan Usaha Kecil dan Menengah Nomor 2 Tahun 2021 pasal 5 dan 6 tentang
persyaratan penerima BPUM adalah Warga Negara Indonesia, memiliki Kartu Tanda
Penduduk (KTP) Elektronik, memiliki Usaha Mikro yang dibuktikan dengan surat
usulan calon penerima BPUM dari pengusul BPUM beserta lampirannya yang
merupakan satu kesatuan dan bukan Aparatur Sipil Negara, anggota Tentara
Nasional Indonesia, anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia, pegawai BUMN,
atau pegawai BUMD serta calon penerima BPUM tersebut disulkan oleh Dinas atau
Badan yang membidangi koperasi dan usaha Mikro, Kecil, dan menengah
Kabupaten/Kota. Usaha Teradu masuk kedalam pendataan masyarakat yang
memiliki UMKM dan di usulkan untuk menerima BPUM. Bahwa sebelum menerima
BPUM Teradu telah berkoordinasi terlabih dahulu dengan pihak-pihak yang berkaitan
dengan urusan bantuan Covid-19 bagi pelaku usaha maupun dengan pihak-pihak
yang berkaitan dengan urusan penyelenggara pemilu dan di terangkan bahwa hal
tersebut tidak bertentangan dengan asas kepatutan dan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
[4.3] Menimbang jawaban dan keterangan para Pihak, dokumen, bukti, dan fakta
yang terungkap dalam sidang pemeriksaan, DKPP berpendapat berkenaan dengan
pokok aduan Pengadu, terhadap dalil bahwa Teradu diduga melanggar prinsip
mandiri sebagai Penyelenggara Pemilu dengan menerima dana Bantuan Produksi
Usaha Mikro (BPUM) dari Pemerintah Kabupaten Bener Meriah. Terungkap fakta
bahwa Teradu sejak Tahun 2011 sebelum menjadi Penyelenggara Pemilu memiliki
usaha counter pulsa dan penyedia jasa pengiriman uang BRI Link yang bertempat di
depan kediaman Teradu di Desa Jamur Ujung, dimana usaha tersebut dikelola
sepenuhnya oleh istri Teradu. Pada saat pandemi Covid-19 tahun 2020, usaha Teradu
didata oleh Kepala Kampung Jamur Ujung sebagai calon penerima BPUM yang
usahanya terkena dampak pandemi Covid-19. Berdasarkan ketentuan Pasal 5
Peraturan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Nomor 10 Tahun 2022
tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil
Menengah Nomor 6 Tahun 2020 tentang Pedoman Umum Penyaluran Bantuan
Pemerintah bagi Pelaku Usaha Mikro Untuk Mendukung Pemulihan Ekonomi
Nasional Dalam Rangka Menghadapi Ancaman yang Membahayakan Perekonomian
Nasional serta Penyelamatan Ekonomi Nasional pada masa Pandemi Covid-19, pada
pokoknya mengatur syarat bagi penerima BPUM yang diantaranya yaitu bukan
berkedudukan sebagai ASN, anggota TNI/POLRI, Pegawai BUMD dan BUMN. BPUM
adalah bantuan pemerintah dalam bentuk uang yang diberikan kepada pelaku usaha
mikro yang memenuhi kriteria tertentu yang disalurkan langsung ke rekening
penerima BPUM yang bersumber dari APBN. Setelah melalui rangkaian verifikasi dan
validasi, Teradu dinyatakan memenuhi syarat sebagai penerima BPUM sebesar Rp
1.200.000,- (satu juta dua ratus ribu rupiah) yang dikirimkan langsung ke rekening
Bank Aceh milik Teradu.
Berkenaan dengan kedudukan Teradu sebagai Penyelenggara Pemilu, terungkap fakta
dalam persidangan bahwa Teradu telah berkonsultasi dengan Ir. Tarmizi yang
merupakan salah satu Anggota KIP Provinsi Aceh bidang Hukum dan Pengawasan,
dalam konsultasi tersebut dijelaskan bahwa BPUM tidak memiliki unsur konflik
kepentingan karena bantuan tersebut diusulkan oleh Kepala Kampung, bukan atas
inisiatif Teradu. Selanjutnya ditemukan fakta dalam persidangan bahwa bantuan
tersebut tidak diperoleh oleh Teradu dengan memanfaatkan jabatan yang melekat
pada dirinya. DKPP menilai tindakan Teradu yang menerima bantuan dari Pemerintah
bagi pelaku usaha mikro yang terkena dampak pandemi Covid-19 dapat dibenarkan
menurut etika dan hukum. Teradu yang merupakan Penyelenggara Pemilu masuk ke
dalam penerima bantuan a quo yang memenuhi kriteria sebagai penerima bantuan
dan bukan pihak yang dikecualikan. Pandemi Covid-19 merupakan kondisi khusus
yang berdampak secara luas bagi semua kalangan masyarakat termasuk
penyelenggara pemilu yang memiliki usaha kecil. Bantuan bagi pelaku usaha ini
khusus diberikan oleh Pemerintah pada Tahun 2021 sebagai upaya menyelamatkan
ekonomi nasional karena adanya pandemi Covid-19 yang berdampak ke pelaku usaha
mikro di seluruh Indonesia. Berkenaan dengan serangkaian fakta diatas, DKPP
berpendapat dalil aduan Pengadu tidak terbukti dan jawaban Teradu meyakinkan
DKPP. Teradu tidak terbukti melakukan pelanggaran kode etik dan pedoman perilaku
penyelenggara pemilu.
[4.4] Menimbang terhadap dalil aduan Pengadu selebihnya, DKPP tidak relevan untuk
mempertimbangkan.
VI. KESIMPULAN
Berdasarkan atas penilaian fakta yang terungkap dalam persidangan sebagaimana
diuraikan di atas, setelah memeriksa keterangan Para Pengadu, memeriksa jawaban
dan keterangan Teradu, mendengarkan keterangan Pihak Terkait, dan memeriksa
segala bukti dokumen Para Pengadu, Teradu, dan Saksi, Dewan Kehormatan
Penyelenggara Pemilu menyimpulkan bahwa:
[5.1] Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu berwenang mengadili pengaduan
Pengadu;
[5.2] Para Pengadu memiliki kedudukan hukum (legal standing) untuk mengajukan
pengaduan a quo;
[5.3] Teradu tidak terbukti melakukan pelanggaran Kode Etik dan Pedoman Perilaku
Penyelenggara Pemilu;
Berdasarkan pertimbangan dan kesimpulan tersebut di atas;
MEMUTUSKAN
1. Menolak pengaduan Pengadu untuk seluruhnya;
2. Merehabilitasi nama baik Teradu Yusrijal Faini selaku Anggota KIP Kabupaten
Bener Meriah sejak Putusan ini dibacakan;
3. Memerintahkan Komisi Pemilihan Umum untuk melaksanakan Putusan ini paling
lama 7 (tujuh) hari sejak Putusan dibacakan; dan
4. Memerintahkan Badan Pengawas Pemilihan Umum untuk mengawasi pelaksanaan
Putusan ini.
Demikian diputuskan dalam Rapat Pleno oleh 6 (enam) anggota Dewan Kehormatan
Penyelenggara Pemilihan Umum, yakni Heddy Lugito selaku Ketua merangkap
Anggota; J. Kristiadi , Ratna Dewi Pettalolo, I Dewa Kade Wiarsa Raka Sandi,
Muhammad Tio Aliansyah dan Yulianto Sudrajat masing-masing sebagai Anggota,
pada hari Senin, tanggal Dua Puluh Empat bulan Juli tahun Dua Ribu Dua Puluh
Tiga dan dibacakan dalam sidang kode etik terbuka untuk umum pada hari ini,
Kamis tanggal Tiga bulan Agustus tahun Dua Ribu Dua Puluh Tiga oleh Ratna Dewi
Pettalolo dan I Dewa Kade Wiarsa Raka Sandi masing-masing selaku Anggota.
ANGGOTA
Ttd Ttd
Ratna Dewi Pettalolo I Dewa Kade Wiarsa Raka Sandi
Asli Putusan ini telah ditandatangani secukupnya, dan dikeluarkan sebagai salinan
yang sama bunyinya.
Sekretaris Persidangan Pengganti
Andre Saputra